kerlip hidupku ini ketika aku tersadar dari pelukanmu
membuka mata tanpa rasa
yang ku ingat hanya tetesan air mata
yang selalu engkau bendung walau tak jarang memaksa keluar
kau hapus perlahan air mata yang jatuh tepat di pipiku
sungguh lembut ibu sentuhanmu
hingga aku kembali terlelap dalam perihnya perutku
sesekali kau mulai menggerakan bibirmu
entah berdoa atau mencaci ketidak adilan hidup ini
tak lama kembali jatuh butiran suci air matanya
lalu kau hapus kembali
ada rasa yang berbeda
kali ini sentuhannya melemah
lebih lembut di bandingkan sutra
membuatku terheran penuh tanya
tapi tak ku hiraukan, kembali aku tidur dalam lelapnya rasa nyeri