Selasa, 22 Januari 2013

Jenis-jenis Perubahan Makna




1.   Jenis Perubahan
            Faktor-faktor atau sebab-sebab terjadinya perubahan makna dapat dilihat ada perubahan yang sifatnya menghalus, ada perubahan yang sifatnya meluas, dan ada yang sifatnya menyempit atau mengkhusus, ada yang sifatnya halus, ada yang sifatnya mengasar, dan adapula yang sifatnya total. Maksudnya, berubah sama sekali dari makna semula.
1.1 Meluas
                Yang dimaksud dengan perubahan makna meluas adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata atau leksem yang pada mulanya hanya memiliki sebuah ‘makna’ tetapi kerena berbagai faktor menjadi memiliki makna-makna lain. Umpamanya kata saudara yang pada mulanya hanya bermakna ‘seperut’ atau ‘sekandungan’. Kemudian maknanya berkembang menjadi ‘siapa saja yang sepertalian darah’. Akibatnya, anak paman pun disebut saudara. Lebih jauh lagi selanjutnya siapa pun dapat disebut saudara. Coba anda simak kalimat-kalimat berikut, barangkali Anda dapat menangkap makna kata saudara pada kalimat-kalimat itu.
a. Saudara saya hannya dua orang.
b. Surat saudara sudah saya terima.
c. Sebetulnya dia masih saudara saya, tapi sudah agak jauh.
d. Bingkisan untuk saudara-saudara kita di Bali.
e. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, marilah…
Perluasan makna yang terjadi pada kata saudara terjadi juga pada kata-kata kekerabatan lain seperti kakak, ibu, adik, dan bapak.
                Kakak yang sebenarnya bermakna ‘saudara sekandung yang lebih tua’, meluas maknanya menjadi siapa saja yang pantas diabggap atau disebut sebagai saudara sekandung yang lebih tua. Begitu pula dengan adik yang makna sebenarnya adalah ‘saudara sekandung yang lebih muda’, maknanya meluas menjadi siapa saja yang pantas dianggap atau disebut sebagai asaudara sekandung yang lebih muda. 
1.2 Menyempit
Yang dimaksud dengan perubahan menyempit adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata yang pada mulanya mempunyai makna yang cukup luas, kemudian berubah menjadi terbatas hanya pada sebuah makna saja. Misalnya kata  sarjana yang pada mulanya berarti ‘orang pandai’ atau ‘cendikiawan’, kemudian hanya berarti ‘orany yang lulus dari perguruan tinggi’, seperti tampak pada sarjana sastra, sarjana ekonomi dan sarjana hukum. Betapapun pandainya seseorang mungkin sebagai hasil belajar sendiri, kalau bukan tamatan suatu perguruan tinggi, tidak bisa disebut sarjana. Sebaliknya betapapun rendahnya indeks prestasi seseorang kalau dia sudah lulus dan perguruan tinggi, dia akan disebut sarjana.
                Contoh lain, kata ahli pada mulanya berarti ‘orang yang termasuk dalam suatu golongan atau keluarga’ seperti dalam frase ahli waris yang berarti ‘orang yang termasuk dalam satu kehidupan keluarga’, dan juga ahli kubur yang berarti ’orang-orang yang sudah dikubur’. Kini kata ahli sudah menyempit maknanya Karena hanya berarti ‘orang yang pandai dalam satu cabang ilmu atau kepandaian seperti tampak dalam frase ahli sejarah, ahli purbakala, ahli bedah, dan sebagainya.
1.3 Perubahan Total
                Yang dimaksud perubahan total adalah berubahnya sama sekali makna sebuah kata dan makna asalnya. Memang ada kemungkinan makna yang dimiliki sekarang masi ada sangkut pautnya dengan makna asal, tetapi sangkut pautnya ini tanpaknya sudah jauh sekali misalnya, kata ceramah  pada mulanya berarti ‘cerewet’ atau ‘banyak cakap’ tetapi kini berarti ‘pidato’ atau ‘uraian’ mengenai suatu hal yang disampaikan di depan orang banyak.  Contoh lain kata seni yang pada mulnya selalu dihubungkan dengan air seni atau kencing. Tetapi kini digunakan sepadan dengan makna kata Belanda kunst atau kata inggris art, yaitu untuk engartikan karya atau ciptaan yang bernilai halus. Misalnya digunakan dalam frase seni lukis, seni tari, seni suara, dan seni ukir. Orangnya disebut seniman kalau laki-laki, dan seniwati kalau perempuan.
1.4 Penghalusan (Eufemia)
                Dalam pembicaraan mengenai perubahan makna yang meluas, menyempit, atau berubah secara total, kita berhadapan dengan sebah kata atau sebuah bentuk yang tetap. Hanya konsep makna mengenai kata atau bentuk itu yang berubah. Dalam pembicaraan mengenai penghalusan ini kita berhadapan dengan gejala ditampilkannya kata-kata atau bentuk-bentuk yang dianggap makna yang lebih halus, atau lebih sopan dari pada yang akan digantikan. Kecenderungan untuk menghaluskan makna kata tampaknya merupakan gejala umum dalam masyarakat bahasa Indonesia. Misalnya kata penjara atau bui diganti dengan kata/ ungkapan yang maknanya dianggap lebih halus yaitu lembaga permasyarakatan; dipenjara atau dibui diganti menjadi dimasukan ke lembaga permasyarakatan. Kata korupsi diganti dengan menalahgunakan jabatan; kata pemecatan (dari pekerjaan) diganti dengan pemutusan hubungan kerja (PHK); kata babu diganti dengan pembantu rumah tangga dan kini diganti lagi menjadi pramuwisma Kata/ungkapan kenaikan harga diganti dengan perubahan harga, atau penyrsuaian tarif, atau juga pemberlakuan tariff baru.
1.5 Pengasaran
                Kebaikan dari pengalusan adalah pengasaran (disfemia), yaitu usaha untuk mengganti kata yang maknanya halus atau bermakna biasa dengan kata yang maknanya kasar. Usaha atau gejala pengasaran ini biasanya dilakukan orang dalam situasi yang tidak ramah atau untuk menunjukkan kejengkelan. Misalnya kata atau ungkapan masuk kotak dipakai untuk mengganti kata kalah seperti dalam kalimat Liem Swie King sudah masuk kotak;  kata mencaplok dipakai untuk mengganti mengambil dengan begitu saja seperti dalam kalimat Dengan enaknya Israel mencaplok wilayah Mesir itu., dan kata mendepak dipakai untuk mengganti kta meneluarkan seperti dalam kalimat Dia berhasil mendepak bapak A dari kedudukannya. Begitu juga dengan kata menjebloskan yang dipakai untuk menggantikan kata memasukan seperti dalam kalimat polisi menjebloskannya ke dalam sel.


3 komentar:

  1. bermanfaat sekali, tapi sayang, kurang banyak pembahasan tentang eufemia dan disfemianya he-he. Teerimakasih (y)

    BalasHapus
  2. iya sama-sama, semoga bermanfaat...
    terima kasih masukannya :)

    BalasHapus
  3. Terimakasih atas artikelnya😊Sekedar tambahan aja, kalau masukan artikel tolong masukan dasar teori dari ahli nya, biar gak canggung ini teori siapa hihi, terimakasih

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...