Senin, 01 Juli 2013

PENANTIAN TERAKHIR



Disini aku berdiri, bukan karna aku ingin melangkah ataupun berlari melainkan hanya sekedar mengenang semua yang telah ku lewati bersamamu, masih sama seperti dulu, air yang tenang, angin yang berhembus menyegarkan pikiran, burung-burung yang selalu menyapa setiap orang yang langlang-lingling  menyelusuri tempat ini, sungguh suasana ini membuat aku semakin larut dalam khayal.
“Langitnya indah yah By”
“Hmmm…ya, tapi sebenarnya ada yang lebih indah dibandingkan dengan langit itu” jawab Biyan padaku sambil tesenyum.
“Wahh,,, apa itu By?”
“Sesuatu yang sangat indah bagiku yaitu bisa mengenal dan bersahabat denganmu Dit” lagi-lagi dia menjawab sambil tersenyum padaku, aku sungguh sangat bahagia dia berkata begitu, walaupun dalam hatiku menyimpan dan mengiginkan lebih dari itu.
“Dasar kau By!”
“Ye, kenapa memangnya Dit, kamu kebratan?” Tanya Biyan padaku dengan raut wajah yang sangat berbeda dari yang tadi.
“Tidak By, hanya saja itu seperti berlebihan, aku hanya manusia biasa mana mungkin aku bisa menyaingi keindahan langit”
“Liat mataku Dit, apakah aku kelihatan bergurau?” Biyan tiba-tiba menatapku dengan tatapan mata yang tidak seperti biasanya, akupun tak kuat tuk terus melihat matanya, dan akupun memalingkan penglihatanku darinya


“Kenapa Dit, kenapa kamu memalingkan tatapan matamu, kamu takut aku tau yang kamu rasakan padaku?”
“Tidak By, aku hanya tidak ingin rasa ini kembali hadir karna ku tahu kamu tidak mungkin bisa bersama denganku, dan akupun tak mau jika aku harus kembali pada penderitaanku dulu”. Jelasku tak kuasa.
“Maaf Dit, jika selama ini aku selalu membuatmu susah dan bersedih”
Biyanpun tiba-tiba menundukan kepalanya, saat itu jujur aku sangat menyesal telah bekata itu, aku mencoba tuk kuat dan mencoba menenangkan hatiku sendiri.
“By, maaf karna perkataan aku tadi suasana menjadi kurang nyaman gini, tapi kalau boleh jujur selama ini aku memang sangat mengharapkan saat ini kan kembali hadir, dan aku rasa sekarang saatnya aku mengutarakan perasaanku kembali padamu By, sebenarnya aku masih menyimpan rasa sayang yang sama besarnya seperti yang dulu padamu, dan...”
Belum usai perkataanku untuk Biyan, tiba-tiba terdengar suara yang cukup ku kenal.
“Hei Dit, kamu lagi ngapain disini?, adeuh yang lagi mojok…”
Akupun kaget karna jujur saja aku paling tidak bisa jika harus terus terang tentang kisah asmaraku, bukan karna aku malu tapi aku tak mau jika semua orang tahu tentang kisah asmaraku, lagipula toh aku memang tidak ada hubungan yang special dengan Biyan sejauh ini.
“Hei Wan, kamu yang lagi ngapain disini?”  Sangkalku sambil membelokan arah pembicaraan.
“Hhha, aku lagi liburan Dit, sama keluarga, Astagfirullahhaladzim maaf Dit aku tak bisa lama berbincang denganmu, aku lagi disuruh mamahku untuk beli air, lagian aku takut ganggu kamu yang lagi berduaan,,hhha”
“Ya, mangga Wan, salamkan saja sama keluargamu dari aku”
Dalam hatiku aku berkata “alhamdulilaah” akhirnya dia tidak mengolok-ngolok aku, Wawanpun mulai meninggalkan kami, dan akupun kembali berniat untuk melanjutkan pembicaraan yang tadi tak sempat aku katakan pada Biyan, tapi setelah aku melihat wajah Biyan akupun menjadi ragu untuk berbicara, mulut ini rasanya sulit untuk mengucap dan hatiku tak kuasa melihat tatapan mata kosong dan wajah yang sepertinya sangat bersedih,
“By, kenapa, kok sperti yang sedang sedang sedih?” tanyaku pada Biyan, dengan penuh harap
“Tidak apa-apa Dit, Dit sudah sore yu kita pulang”
Entah apa yang sedang dipikirkan Biyan saat itu, dengan tatapan mata yang kosong dia mengajaku tuk pulang, akupun tak bisa menolak permintaan Biyan, sepanjang jalan tada satu katapun yang menghiasi perjalan pulang, aku dan Biyan sama-sama diam seribu bahasa, padahal kenyataannya aku sangat ingin bicara dan ingin mengetahui kenapa tiba-tiba Biyan bertingkah seperti itu.
Setelah kejadian itu aku takpernah lagi bertemu dengan Biyan, beribu-ribu kali aku coba SMS ataupun Telpon dia, tapi sama sekali tidak mendapatkan hasil, smua SMSku tak pernah ada yang yang dibalasnya, akhirnya pada suatu hari aku memberanikan diri untuk menemui dia ke rumahnya.
“Tok, tok, tok, assalamualaikum
Aku mengetuk pintu rumah Biyan dengan penuh harap Biyan yang membukakan pintu untukku, detak jantungku semakin berdetak kencang ketika aku mendengar langkah kaki dan suara seseorang dalam rumah yang membukakan pintu untukku.
Waalaikumsalam, ekh Radit, silakan masuk”
Ternyata yang membukakan pintu adalah Ibunya Biyan, ibu Biyanpun menyambut kedatanganku dengan sangat ramah, malum waktu saya dan Biyan masi sekolah di SMA yang sama saya sering mengantarkan pulang Biyan ke rumahnya, jadi tak heran rasanya jika ibunya Biyan bersikap ramah seperti itu.
“Iya BU makasih, tapi saya tidak akan lama Bu, hanya ingin bertemu dengan Biyan saja”
“Oh…Biyan, sudah Ibu duga kamu akan kesini mencari Biyan, tunggu sebentar yah Dit”
Ibu Biyan kembali masuk ke dalam Rumah, dan perasaanku mulai tidak enak, hatiku semakin tak karuan ketika Ibu Biyan kembali menghampiriku membawa secarik kertas, tanpa amplop yang lusuh, penuh coretan.
“Dit, ini Ibu temukan sebelum Biyan berangkat untuk kembali ke Bandung untuk kuliah, dan Ibu rasa ini ada sangkut pautnya dengan kamu Dit, tapi maaf ibu tidak bisa membantu lebih dari ini, dan Ibu rasa Adit lebih baik pulang sekarang dan bacalah isi kertas itu di rumah”
Dalam pikirku, ada apa ini? Kenapa ini? Tanpa lama aku berpamitan pada ibu Biyan,

Sesampainya di rumah aku mengambil kertas yang tadi diberikan oleh Ibu Biyan padaku, dan dengan hati yang penuh dengan tanda tanya aku mulai membaca isi kertas itu.

Assalamualaikum DIt…
Aku bahagia sekali ketika aku diajak jalan-jalan kembali olehmu, dan apakah kau tahu Dit aku tak pernah membayangkan jika akhirnya kau berkata Cinta padaku untuk kesekian kalinya, jujur aku sangat bahagia, dan rasanya aku ingin juga kau tahu bahwa aku merasakan hal yang sama dengan mu, tapi aku teringat seseorang yang kini terlanjur denganku, aku memang lebih menyayangimu dibandingkan dengan dia, tapi…..akh tak usah aku jelaskan kmupun sudah mengerti bukan kenapa?
            Jika kau berkenan, lupakanlah aku Dit, dan kamu cari penggantiku saja, aku taklebih hanya sebatas wanit biasa yang mempunyai banyak kekurangan, maafkan aku dit, jika aku tidak bisa……

Akhhhhhhhhhh……
Kenapa siiiiiiiiiiii Aku iniiiiiiii
                                               
                                                                Aku terlalu lemah untuk iini…..
Tanpa aku sadari air mataku menetes, dan mulai membasahi pipiku, entahlah apa yang kurasa, aku hanya terdiam memandang isi kertas itu dengan air mata yang aku larang untuk menetes lagi.
Aku mencoba kuat dan aku ambil Hand Phoneku, ku cari nama Biyan My Love, dan ku tekan tombol Call, tapi sayang lagi-lagi tak ada jaawaban hanya bunyi kereta lewat yang selalu kudengar tiap menelponnya.
“By, maaf jika perkataan Adit minggu kemarin membuat By bingung, Adit tak bermaksud untuk itu, dan smoga Biyan bahagia bersama dia, mungkin untuk terakhir kalinya Adit katakan padamu I LOVE YOU…”
Lalu ku kirimkan SMS itu pada Biyan.
Lama sudah kejadian itu terukir dalam hati dan ingatanku.
“Heiiii Radiiiiiiiiit sayang kamu melamun saja dari tadi, pasti melamunkan masa-masa kita dulu yaa, waktu kita pertama kali main ke sini?”
Tiba-tiba Biyan membangunkanku dari Lamunan tentang masa lalu.
“Hhhe, iyah By, tak terasa yah By dulu kita pernah kesini, dan aku menyatakan cinta padamu By, tapi semua tak berjalan mulus malahan kamu seperti marah padaku saat itu, dan sekarang tanpa terkira akhirnya kita bisa bersama lagi dengan ikatan yang menyatukan kita”
“dasar kau Radit sayang”
Lalu Biyan memelukku dengan pelukan yang cukup menjadi penawar segala hiruk pikuk kisah asmara antara aku dan dia waktu dulu, dan akupun membalas pelukan hangatnya disertai dengan kecupan di dahinya.
”Tempat ini telah menjadi kenangan ketika aku dan kamu disatukan dan dipisahkan kemudian dipersatukan kembali By, semoga cinta kita takan pernah terpisahkan lagi oleh waktu.”
                                                                                                                       
                                                                                                                                  Sabtu, 10 Desember 2011



                                                                                                








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...