Disini aku berdiri, bukan karna aku
ingin melangkah ataupun berlari melainkan hanya sekedar mengenang semua yang
telah ku lewati bersamamu, masih sama seperti dulu, air yang tenang, angin yang
berhembus menyegarkan pikiran, burung-burung yang selalu menyapa setiap orang
yang langlang-lingling menyelusuri tempat ini, sungguh suasana ini
membuat aku semakin larut dalam khayal.
“Langitnya indah yah By”
“Hmmm…ya, tapi sebenarnya ada yang
lebih indah dibandingkan dengan langit itu” jawab Biyan padaku sambil tesenyum.
“Wahh,,, apa itu By?”
“Sesuatu yang sangat indah bagiku yaitu
bisa mengenal dan bersahabat denganmu Dit” lagi-lagi dia menjawab sambil
tersenyum padaku, aku sungguh sangat bahagia dia berkata begitu, walaupun dalam
hatiku menyimpan dan mengiginkan lebih dari itu.
“Dasar kau By!”
“Ye, kenapa memangnya Dit, kamu
kebratan?” Tanya Biyan padaku dengan raut wajah yang sangat berbeda dari yang
tadi.
“Tidak By, hanya saja itu seperti
berlebihan, aku hanya manusia biasa mana mungkin aku bisa menyaingi keindahan
langit”
“Liat mataku Dit, apakah aku kelihatan
bergurau?” Biyan tiba-tiba menatapku dengan tatapan mata yang tidak seperti
biasanya, akupun tak kuat tuk terus melihat matanya, dan akupun memalingkan
penglihatanku darinya
“Tidak By, aku hanya tidak ingin rasa
ini kembali hadir karna ku tahu kamu tidak mungkin bisa bersama denganku, dan
akupun tak mau jika aku harus kembali pada penderitaanku dulu”. Jelasku tak
kuasa.
“Maaf Dit, jika selama ini aku selalu
membuatmu susah dan bersedih”
Biyanpun tiba-tiba menundukan
kepalanya, saat itu jujur aku sangat menyesal telah bekata itu, aku mencoba tuk
kuat dan mencoba menenangkan hatiku sendiri.
“By, maaf karna perkataan aku tadi
suasana menjadi kurang nyaman gini, tapi kalau boleh jujur selama ini aku
memang sangat mengharapkan saat ini kan kembali hadir, dan aku rasa sekarang
saatnya aku mengutarakan perasaanku kembali padamu By, sebenarnya aku masih
menyimpan rasa sayang yang sama besarnya seperti yang dulu padamu, dan...”
Belum usai perkataanku untuk Biyan,
tiba-tiba terdengar suara yang cukup ku kenal.
“Hei Dit, kamu lagi ngapain disini?,
adeuh yang lagi mojok…”
Akupun kaget karna jujur saja aku
paling tidak bisa jika harus terus terang tentang kisah asmaraku, bukan karna
aku malu tapi aku tak mau jika semua orang tahu tentang kisah asmaraku,
lagipula toh aku memang tidak ada hubungan yang special dengan Biyan
sejauh ini.
“Hei Wan, kamu yang lagi ngapain
disini?” Sangkalku sambil membelokan arah pembicaraan.
“Hhha, aku lagi liburan Dit, sama
keluarga, Astagfirullahhaladzim maaf Dit aku tak bisa lama berbincang
denganmu, aku lagi disuruh mamahku untuk beli air, lagian aku takut ganggu kamu
yang lagi berduaan,,hhha”
“Ya, mangga Wan, salamkan saja
sama keluargamu dari aku”
Dalam hatiku aku berkata “alhamdulilaah”
akhirnya dia tidak mengolok-ngolok aku, Wawanpun mulai meninggalkan kami, dan
akupun kembali berniat untuk melanjutkan pembicaraan yang tadi tak sempat aku
katakan pada Biyan, tapi setelah aku melihat wajah Biyan akupun menjadi ragu
untuk berbicara, mulut ini rasanya sulit untuk mengucap dan hatiku tak kuasa
melihat tatapan mata kosong dan wajah yang sepertinya sangat bersedih,
“By, kenapa, kok sperti yang sedang
sedang sedih?” tanyaku pada Biyan, dengan penuh harap
“Tidak apa-apa Dit, Dit sudah sore yu
kita pulang”
Entah apa yang sedang dipikirkan Biyan
saat itu, dengan tatapan mata yang kosong dia mengajaku tuk pulang, akupun tak
bisa menolak permintaan Biyan, sepanjang jalan tada satu katapun yang menghiasi
perjalan pulang, aku dan Biyan sama-sama diam seribu bahasa, padahal
kenyataannya aku sangat ingin bicara dan ingin mengetahui kenapa tiba-tiba Biyan
bertingkah seperti itu.
Setelah kejadian itu aku takpernah lagi
bertemu dengan Biyan, beribu-ribu kali aku coba SMS ataupun Telpon dia,
tapi sama sekali tidak mendapatkan hasil, smua SMSku tak pernah ada yang
yang dibalasnya, akhirnya pada suatu hari aku memberanikan diri untuk menemui
dia ke rumahnya.
“Tok, tok, tok, assalamualaikum”
Aku mengetuk pintu rumah Biyan dengan
penuh harap Biyan yang membukakan pintu untukku, detak jantungku semakin
berdetak kencang ketika aku mendengar langkah kaki dan suara seseorang dalam
rumah yang membukakan pintu untukku.
“Waalaikumsalam, ekh Radit,
silakan masuk”
Ternyata yang membukakan pintu adalah
Ibunya Biyan, ibu Biyanpun menyambut kedatanganku dengan sangat ramah, malum
waktu saya dan Biyan masi sekolah di SMA yang sama saya sering mengantarkan
pulang Biyan ke rumahnya, jadi tak heran rasanya jika ibunya Biyan bersikap
ramah seperti itu.
“Iya BU makasih, tapi saya tidak akan
lama Bu, hanya ingin bertemu dengan Biyan saja”
“Oh…Biyan, sudah Ibu duga kamu akan kesini
mencari Biyan, tunggu sebentar yah Dit”
Ibu Biyan kembali masuk ke dalam Rumah,
dan perasaanku mulai tidak enak, hatiku semakin tak karuan ketika Ibu Biyan
kembali menghampiriku membawa secarik kertas, tanpa amplop yang lusuh, penuh
coretan.
“Dit, ini Ibu temukan sebelum Biyan
berangkat untuk kembali ke Bandung untuk kuliah, dan Ibu rasa ini ada sangkut
pautnya dengan kamu Dit, tapi maaf ibu tidak bisa membantu lebih dari ini, dan
Ibu rasa Adit lebih baik pulang sekarang dan bacalah isi kertas itu di rumah”
Dalam pikirku, ada apa ini? Kenapa ini?
Tanpa lama aku berpamitan pada ibu Biyan,
Sesampainya di rumah aku mengambil
kertas yang tadi diberikan oleh Ibu Biyan padaku, dan dengan hati yang penuh
dengan tanda tanya aku mulai membaca isi kertas itu.
Assalamualaikum DIt…
Aku bahagia sekali ketika aku diajak
jalan-jalan kembali olehmu, dan apakah kau tahu Dit aku tak pernah
membayangkan jika akhirnya kau berkata Cinta padaku untuk kesekian kalinya,
jujur aku sangat bahagia, dan rasanya aku ingin juga kau tahu bahwa aku
merasakan hal yang sama dengan mu, tapi aku teringat seseorang yang kini
terlanjur denganku, aku memang lebih menyayangimu dibandingkan dengan dia,
tapi…..akh tak usah aku jelaskan kmupun sudah mengerti bukan kenapa?
Jika kau berkenan, lupakanlah aku Dit, dan kamu cari penggantiku saja, aku
taklebih hanya sebatas wanit biasa yang mempunyai banyak kekurangan, maafkan
aku dit, jika aku tidak bisa……
Akhhhhhhhhhh……
Kenapa siiiiiiiiiiii Aku iniiiiiiii
Aku terlalu lemah untuk iini…..
Tanpa aku sadari air mataku menetes,
dan mulai membasahi pipiku, entahlah apa yang kurasa, aku hanya terdiam
memandang isi kertas itu dengan air mata yang aku larang untuk menetes lagi.
Aku mencoba kuat dan aku ambil Hand
Phoneku, ku cari nama Biyan My Love, dan ku tekan tombol Call, tapi
sayang lagi-lagi tak ada jaawaban hanya bunyi kereta lewat yang selalu kudengar
tiap menelponnya.
“By, maaf jika perkataan Adit minggu
kemarin membuat By bingung, Adit tak bermaksud untuk itu, dan smoga Biyan
bahagia bersama dia, mungkin untuk terakhir kalinya Adit katakan padamu I
LOVE YOU…”
Lalu ku kirimkan SMS itu pada
Biyan.
Lama sudah kejadian itu terukir dalam
hati dan ingatanku.
“Heiiii Radiiiiiiiiit sayang kamu
melamun saja dari tadi, pasti melamunkan masa-masa kita dulu yaa, waktu kita
pertama kali main ke sini?”
Tiba-tiba Biyan membangunkanku dari Lamunan
tentang masa lalu.
“Hhhe, iyah By, tak terasa yah By dulu
kita pernah kesini, dan aku menyatakan cinta padamu By, tapi semua tak berjalan
mulus malahan kamu seperti marah padaku saat itu, dan sekarang tanpa terkira
akhirnya kita bisa bersama lagi dengan ikatan yang menyatukan kita”
“dasar kau Radit sayang”
Lalu Biyan memelukku dengan pelukan
yang cukup menjadi penawar segala hiruk pikuk kisah asmara antara aku dan dia
waktu dulu, dan akupun membalas pelukan hangatnya disertai dengan kecupan di
dahinya.
”Tempat ini telah menjadi kenangan
ketika aku dan kamu disatukan dan dipisahkan kemudian dipersatukan kembali By,
semoga cinta kita takan pernah terpisahkan lagi oleh waktu.”
Sabtu, 10 Desember 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar