Senin, 01 Juli 2013

Hidupku Dimulai Ketika Fajar



Embun pagi masih lekat dalam tubuh setiap orang dan setiap benda yang hadir dalam perjalanan tanpa atap, tak terasa badanku basah kuyup setelah aku memaksa menerobos dinginnya udara subuh, aroma-aroma masakan yang mulai menjajalkan kelebihannya mulai berlomba menarik perhatian orang yang kedinginan, ingin rasanya aku sejenak menuruti kata perutku yang mulai tergoda dengan aroma nikmat ketan bakar khas Lembang, tapi tugas yang memaksaku tuk tak bisa mampir walau hanya untuk menjajal perut ini dengan sepotong ketan bakar, akupun terus mengayuh sepeda layaknya pembalap sea games yang hendak mencapai finish.
“Hoy, mad lu lagi ngapain pagi-pagi dah ngayuh sepeda keliling komplek gue, hah…lu jadi pengantar Koran rupanya, aduh kasian sekali kau Mad” sapa ejek teman sekelasku ketika aku secara kebetulan mengantarkan koran tepat kerumahnya, aku hanya menanggapi ejekan Rafi dengan dingin, pikirku aku tada waktu untuk melayani ejekannya itu.

“Yup Raf, aku memang pengantar koran, tolong tanda tangannya Raf di sini sebagai bukti bahwa aku betul-betul telah mengantarkan koran ke rumah ini” aku menyodorkan buku yang seperti biasanya aku bawa ketika aku berkelilling untuk membagikan koran.
“Ya, ya, ya, nih uang tips buat kamu, gak usah malu-malu ambil saja aku tau kau lebih butuh uang ini dibandingkan aku” lagi-lagi Rafi mnyodorkan ejekannya padaku.
“Tidak Raf, makasih” akupun bergegas melanjutkan tugasku.
Tepat jam 7 pagi aku masi belum selesai mengantarkan koran-koran, sedangkan aku baru ingat bahwa jam 8 aku ada jam kuliah, akupun bargegas menambah daya goesku, tapi malang ketika aku sedang asik-asik menggoes sepeda, di pertengahan jalan menuju rumah terakhir dari petualanganku itu, aku hampir menabrak seekor kucing, dan aku berusaha menghindari kucing itu alhasil aku tersungkur ke got tepat depan rumah yang akan aku kirimi koran.
Astagfirullahaladzim, hampir saja” aku berkata dalam hati pada diriku sendiri, dan aku mencoba untuk berdiri, dari jarak yang tak begitu jauh aku melihat seorang watina cantik, putih, memakai pakaian yang tidak membuat syahwatku bergairah, melainkan membuat aku termangah-mangah melihat semua kecantikan yang tak pernah aku lihat sebelumnya.
“Aduh, kamu kitty dasar, untung saja kamu tidak tertabrak sepeda itu” dia menceramahai kucing yang hampir aku tabrak itu.
“Maaf Neng, saya tadi tak sengaja”
“Owh iya ga apa-apa kok, ekh, kamu gak kenapa-napa kan? Maaf memang kitty kucingku suka susah diatur” jawab dia akrab
“Kitty yah, nama yang cantik, astagfirullah, aku kesini untuk mengantarkan koran ini tapi kayaknya koran ini sudah tak layak, korannya basah kuyup, maaf mungkin aku akan ambilkan yang lain dan kembali lagi kesini”
“Sudah tidak apa-apa, biar nanti aku yang bilang pada ayahku kalau korannya sudah dikirim, lagian ini bukan salahmu, biarlah nanti aku beli saja yang di depan untuk hari ini sekalian aku ingin membeli makanan”
Tiba-tiba aku teringat bahwa sekarang aku ada kuliah jam 8, dan aku menyambut baik ide dari seorang perempuan itu walaupun seharusnya aku yang harus bertanggung jawab tentang itu.
“Owh, ya makasih kalau begitu, tolong tanda tangan ya disini sebagai tanda terima barang” smbari menyodorkan buku
“Ya tidak apa-apa”
Tanpa menunggu lama aku bergegas pulang ke rumah tuk berganti kostum.
********
“Gawat! Lagi-lagi aku kesiangan” gerutuku dalam hati ketika aku melihat pintu kelasku sudah menutup rapat, dengan hati yang sangat tak karuan aku memberanikan diri untuk masuk kelas walaupun pembelajaran sudah dimulai.
assalamualaikum, Bu bolehkah saya masuk kelas?” aku masuk meminta ijin pada Dosen
“Kamu, Ahmad kesiangan mulu kerjanya, rumah kamu dimana si?” jawab Bu dosen ketus padaku.
“Tamansari Bawah Bu”
“Dasar kamu, ahmad dari Tamansari saja kamu kesiangan mulu, sudah duduk sana, untuk terakhir kalinya ibu membolehkan kamu tuk ikut perkuliahan ini”
Baru saja aku mau duduk, tiba-tiba dari belakang Rafi mulai mencari gara-gara lagi,
“Malum Bu Ahmad kan kalau malam suka begadang nungguin lilin, jadi dia bangunnya kesiangan mulu” teriak Rafi dari belakang, sontak mendengar perkataan itu hampir semua teman-temanku menertawai aku yang menjadi objek dari leluconnya Rafi. Tak bisa aku pungkiri lagi jika aku mulai terpancing emosi, sejenak aku yang tadinya akan duduk kembali berdiri dan menatap tajam Rafi yang jelas ku lihat di pojok kanan kelas, aku tak tahan ingin meluapkan segala sesak ini padanya, namun aku masi bersyukur masi ada teman baikku Fajar yang selalu membuat aku ingat bahwa hal itu hanyalah perbuatan konyol, katanya kalah jadi arang menang jadi abu.
“Sudah Mad, gak usah kamu ladeni dia, gada gunanya” Fajar mencoba meredam amarahku, dan akupun menuruti apa kata Fajar
“Sudah-sudah, kamu Ahmad, sudah kesiangan kamu malah membuat onar di kelas lagi,lebih baik kamu untuk sekarang tidak usah mengikuti mata kuliah ibu untuk sementara, dan nanti seusai mata kuliah ini ibu ingin bicara padamu di ruang dosen!” tak inigin membuat dosen lebih murka lagi padaku akupun dengan hati yang menyesal keluar dari kelas itu.
******
“kenapa kamu Ahmad, belakangan ini sering sekali kesiangan, ibu dengar bukan hanya mata kuliah ibu saja, tapi matakuliah yang lain juga kamu sering sekali kesiangan, cerita saja sama ibu, ibu wali dosen kamu di universitas ini, artinya ibu punya tanggung jawab, setidaknya bisa mengetahui permasalahan kamu Ahmad, mungkin ibu bisa bantu” cerita Ibu Hj. Euis padaku, ketika aku menemuinya diruang dosen. Aku lihat ibu yang sangat ingin mengetahui permasalahannku, bukan karna murka karena tadi aku kesiangan dan membuat suasana yang tidak enak di kelas melainkan karena ia merasakan ada hal yang mengganjal dalam hatinya mengenai aku.
“Tidak bu, tidak apa-apa, hanya saja belakangan ini saya agak sibuk dengan pekerjaan saya, jadi setuju atau tidak, suka atau tidak saya harus mengorbankan waktu sedikit untuk pekerjaan itu Bu, dan jika saya tidak begitu mungkin saya akan sulit untuk tetap berkuliah disini” panjang lebar aku ceritakan semuanya pada saat itu, dan aku  merasa lega, tak ada rasa penyesalan yang terbesit ketika aku berbicara semuanya kepada beliau, dan alhamdulilah beliaupun bisa mengerti keadaan aku sekarang.
“Ya, ibu ttahu sekarang kenapa kamu sering sekali kesiangan, ibu tidak bisa berbuatt apa-apa jikalau memang begitu keadaannya, hanya saja ibu minta kalau bisa jangan terlalu sering kamu kesiangan, itupun pasti menjadi penilaian tiap dosen matakuliah, ibu tahu Ahmad pasti bisa”
Setelah pembicaraan itu aku serasa mendapatkan semangat baru, aku merasa jika semua yang hadir dalam hidupku ternyata masi peduli dengan aku yang hanya anak sebatang kara, yang sudah lama di tinggal keluarga karena kebakaran yang merenggut nyawa tiap nyawa keluargaku yang terjadi ketika aku masih kecil, ya kira-kira aku masi berumur 17 tahun, ketika itu aku sedang bersekolah dan tidak seperti biasanya kulihat langit mendung dan terkadang menyapaku dengan rintikan-rintikan air jernih, kukira ini hanyalah hujan biasa, tapi tepat pukul 11 siang, aku tiba-tiba dipanggil pa kepala sekolah dan memberitahu jika rumahku telah terbakar, sontak akupun tak sadarkan diri dan tak ingat apa-apa, ketika aku terbangun aku telah berada di kamar tetanggaku, aku melihat dari celah jendela kulihat hal yang berbeda rumah ku hancur tanpa bentuk, begitupula rumah-rumah tetangga yang berdempetan dengan rumahkupun ikut hancur walaupun tidak separah rumah aku, aku menangis melihtanya, tanyaku “dimana Ibu, Ayah, Kakak dan adikku?” tapi lagi-lagi aku tak sadarkan diri dan masi belum bisa menghadapi kenyataan pahit ini.
“Ahmad, bangun Nak” terdengar suara Mak Asmin membangunkanku
“Nak, kamu yang tabah ya, keluargamu rupanya mendahuluimu menghadap sang pencipta”
sambung Mak Asmin padaku, aku masi tak bisa bicara apa-apa, hanya air mata yang terus keluar membasahi pipiku, aku memberanikan diri hanya untuk sekedar melihat semua anggota keluargaku yang kini sudah terkujur kaku membaris di depanku, dan sajak kejadian itu sebelum Fajar menjadi siang aku harus bekerja mengantarkan koran-koran untuk menghidupi diriku sendiri.
Seperti biasa sebelum aku berangkat kuliah aku mengayuh sepeda yang slalu setia menemaniku menembus dinginnya kota ini, lagi-lagi ketika aku mengantarkan koran ke Rumah Orang tua Rafi, Rafi selalu mengejekku tapi aku tak pernah sekalipun melayani dia karna aku selalu ingat perkataan temanku Fajar sewaktu itu, ada yang aneh aku rasa ketika aku mengantar koran ke rumah terakhir dari rute pengantaran koranku, aku tak pernah melihat seorang gadis yang waktu itu bersama kucingnya, karna penasaran ketika aku mengantarkan koran ke rumah yag aku yakini tempat kediaman gadis itu aku bertanya pada seseorang yang kelihatannya perawat taman rumah itu.
“pa kalau boleh tahu, anak gadis yang punya rumah ini kemana yah? Kok jarang kelihatan lagi?” tanyaku pada perawat kebun ketika memberikan koran langganan itu.
“owh, Non Rani, Non Rani seminggu kebelakang memang tidak ada di rumah katanya si sedang menguruskan kepindahan kuliahnya di luar negri sana tapi sekarang Non Rani sudah ada disini, mau di panggilkan?” jelas Tukang kebun itu
“luar negri?, owh gak usah Pak maksih” akupun melanjutkan perjalananku.
*****
“Ahmad Sobandi!”
“Hadir Bu” sahutku lantang
“Nah gitu Ibu senang belakangan ini kamu tidak pernah kesiangan lagi” puji Bu dosen padaku
“alhamdulilah yah Bu” sambut Rafi dari belakang.
Yah, apa boleh buat, aku hanya menanggapi sebagai angin lewat saja guyonan Rafi, ksrena aku tahu jika dia biangnya masalah dalam hidupku ini.
Ketika pembelajaran sedang berlangsung dan semua mahasiswa sedang serius memperhatikan terdengar suara orang yang mengetuk pintu, pikirku “lah, siapa yang kesiangan masuk kelaas, bukan main telatnya hampir 30 menit tapi dia masih berani untuk masuk kelas, rupanya ada juga orang yang melebihi aku dalam sesi keterlambatan masuk,” aku sontak menjadi penasaran siapa sebenarnya orang yang aku tapsir kesiangan itu. Aku terus memperhatikan ke arah pintu, dan ketika pintu itu mulai terbuka, kulihat remang-remang dari celah yang terbuka rupanya dia seorang perempuan, dan ketika dia masuk kelas dan menghampiri Ibu dosen, aku merasakan jika aku pernah mengenal dia, tapi entahlah siapa dan dimana. Semua mahasiswa seolah-olah terhipnotis dengan kedatangannya, kalau boleh aku bicara jujur memang dia sangat cantik ditambah lagi dia tak serta merta memperlihatkan kecantikannya. Tak begitu jelas apa yang perempuan itu katakan pada Bu dosen ketika itu, yang pasti sepertinya ia berbicara hal yang penting. Lalu perempuan itupun terlihat mencari kursi yang kosong.
“Boleh saya duduk disini?” tanya perempuan itu padaku.
“owh, ya silakan” jawabku, sambil menatap dia, seraya mencoba mengingat-ngingat siapa dia.
Hatiku penuh dengan kepenasaranan, aku selalu mencoba untuk bisa berkenalan untuk mengetahui siapa dia, tapi setelah aku beberapa kali ingin mengucapkan itu, ternyata aku masi terlalu ciut untuk hanya sekedar berkenalanpun. Rupanya tak hanya aku yang ingin berkenalan dengan dia, terlihat Rafi si manusia paling usil juga mulai memamerkan keusilannya saat perkuliahan di bubarkan.
“hei Cantik, siapa namamu, lainkali jangan duduk sebelahan dengan dia, nanti kamu ketularan malas loh”
Perempuan itu hanya membalas kata-kata Rafi dengan sebuah senyuman manis, entahlah senyuman manis untuk pap itu, mungkin untuk menertawai kekonyolan Rafi ataupun unuk menertawai aku yang saat itu disebut pemalas. Perempuan itupun bergegas meninggalkan ruangan, disusul aku yang masi mencoba untuk mengetahui siapa dia.
Kulihat atap langit mulai kelam, awan-awan berlomba maraton kesebelah barat, angin riuh membuat suasana kian gaduh, tak lama berselang butiran-butiran air turun, mengilhami setiap insan yang bertaburan, semua orang mulai mencari tempat untuk berteduh, dan akupun memilih untuk sekedar berteduh di sebuah warung yang terdapat di pinggiran jalan, kupesan kopi hangat untuk mengusir rasa kedinginanku. Baru saja aku akan menyalakan sebatang rokok, tiba-tiba ada seorang perempuan yang juga memilih warung ini untuk berteduh, dngan terpaksa aku tidak jadi untuk menyalakan rokok, karena aku tidak ingin jika asap rokokku ternyata membuatnya tidak nyaman, merasa jika perempuan itu ingin duduk tapi kebetulan tak ada lagi bangku yang kosong, akupun berdiri dan mempersilakan perempuan itu untuk duduk. Belum sempat aku mempersilakan dia untuk duduk, ternyata perempuan itu adalah dia, dia yang tadi ada di kelas.
“ekh, Teteh yang tadi di kelas kan, mahasiswa baru?” tanyaku tiba-tiba lancar
“oh, iya” jawab dia singkat
“Teh, perasaan kita pernah bertemu,, tapi kapan dan dimana yah?”
“Masa? Aku kan anak baru di Universitas ini”
Untuk sejenak aku terdiam, dan kemudian aku teringat jika aku memang pernah bertemu dengan dia ketika aku mengantarkan koran,dan aku terjatuh ke got gara-gara menghindari seekor kucing.
“hmm…aku ingat, kita pernah bertemu ketika aku mengantarkan koran ke rumahmu”
“oh, iya kamu yang hampir menabrak kucingku kan?”
“ya, si Kitty kucing yang imut” tambahku senang
“hihihi, lucu”
“apanya yang lucu aku?, oh iyah namaku Ahmad” ujarku sambil menjulurkan tanganku
“Rani” jawab perempuan itu.
Ada yang unik aku rasa ketika aku hendak mensalaminya, tapi juluran tanganku tak dia balas dia hanya menempelkan kedua tangannya dan diarahkan padaku tanpabersentuhan sedikitpun. Dalam keadaan hujan yang tak kunjung reda, aku dan Rani banyak bercerita di warung itu, entahlah berapa banyak episode yang aku lewati dan berapa banyak cerita-cerita yang kami saling berikan pada waktu itu.
******
Subuh ini, air embun masi menempel dalam rekatan-rakatan cat sepedaku, seperti biasa dinginnya udara selalu menemani tiap jalur yang kulewati dalam menjalankan tugasku sebagai loker koran, tada bedanya dengan hari-hari sebelum ini, masi sama. Hanya saja hari ini aku rasakan tidak ada gangguan emosi seperti biasanya, Rafi yang biasanya stand bay untuk mengejekku, tapi waktu itu dia tidak terlihat sama sekali batang hidungnya, pembantunya yang menerima antaran korankupun, bahagia rasanya pagi-pagi tidak sarapan ejekan Rafi, seperti biasanya setelah dari rumah Rafi, aku melanjutkan ke rumah langganan terakhirku, ya, dalam benakku semoga saja yang menerima antaran koranku Rani, ku pijit bel yang ada di depan rumahnya, dan benar, Rani yang keluar dari rumah itu.
“hei Ran, Pagi, seperti biasa aku mengantarkan koran langganan Papahmu, tolong di tandatangan ya disini”
“Hei Ahmad, rajin banget jam segini sudah nganterin koran?”
“ya Ran, aku takut kesiangan kuliah jika aku tidak rajin gini” jawabku so akrab
“hihihi, ternyata kamu tidak seperti yang dibicarakan Rafi yah Mad” dia berkata padaku sambil tersenyum manis
“dasar kau Ran, yaudah aku pamit dulu yah, aku mau pulang dan siap-siap untuk kuliah, sampai ketemu di kampus Ran, Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam, makasih ya Mad?”
“ya masama Ran” jawabku, sambil mengoes sepeda menjauhi rumah Rani.
******
Keadaan kelas menjadi agak aneh, tak seperti bisanya hampir setiap mahasiswa khususnya laki-laki berlomba untuk duduk di barisan paling depan, kulihat Rafi si biang kerokpun nampaknya telah duduk di barisan paling depan, melihat keadaan itu aku memilih untuk pindah tempat duduk, dan kupilih tempat duduk yang ada di pertengahan kelas.
“Hei Dit, lihat si Ahmad, dia pindah tuh, kira-kira kenapa yah?” bisik Anton pada Rafi.
“Mana ku tahu, mungkin dia takut sama aku jadi dia pindah, hahahaha” mendengar perkataan itu aku sempat ingin memberi dia pelajaran tatak rama, tapi Fajar selalu mencegahku.
“Udahlah Mad, gada gunanya kau layani dia, aku sudah sering ingatkan itu Mad, lebih baik kita diamkan saja dia, kata orang, sesuatu yang jahat itu tidaklah harus dibalas dengan kejahatan lagi”. Fajar menasihatiku kembali.
“Ya Jar, makasih dah mengingatkanku”
“Ok. No what-wahat lah Mad, he”
“hei Mad, kau tahu tidak siapa perempuan yang masuk di kelas kita?” tambah Fajar
“Perempuan yang mana, oh yang berkerudung dan masuk ketika pembelajaran sudah dimulai itu bukan?
“yah benar Mad, siapa dia?”
“Hmm…. Yang pasti ya, mahasiswa sini Jar, haha, Jar nama perempuan itu Rani” bisiku pelan.
“Rani?? eh Mad itu dia datang, panjang umur”
“iyah, sssttttt, udah ah jangan membicarakan orang lain Jar dosa”
“hei Mad, lihat dia kesini tau” Fajar me
“ya udah, gapapa kan dia juga punya privasi untuk apapun di kelas ini” aku agak sewot pada Fajar yang terus-terusan bertanya dan mempermasalahkan Rani. Kulihat saat itu Rafi dan Anton menawari Rani untuk duduk diasampingnya tapi benar ternyata dia malah mendekati kami yang duduk di pertengahan bangku, akupun merasa senang, karena jika dia memilih duduk di samping aku dan Fajar, mungkin saja aku bisa lebih akrab. Dan hokynya aku pada waktu itu Rani, seolah-olah mendengar apa yang aku pikirkan, dia semakin mendekati tempat duduk kami, dan dia tepat duduk di debelah kananku.
“jah, kenapa harus duduk disana si” gerutu Rafi pada Anton
“ya, padahal kita sengaja duduk di depan hanya untuk bisa duduk berdekatan dengan dia, tapi kenapa dia memilih di dekat si Ahmad pemalas itu yah?”
“hei Ahmad Boleh aku pinjam buku catatan punya kamu?” tanya Rani mengagetkanku.
“ya, boleh saja Ran, tapi maaf buku catatan saya Tidak rapih malah mungkin tidak terbaca”
“ga, apapa aku juaga tulisannya jelek, jadi pasti aku bisa baca tulisanmu, lagian tulisanmu bagus menurut aku mah”
Kuberikan catatan kuliahku pada Rani, kulihat wajah yang tak pernah aku lihat sebelumnya, dan terlintaslah pikiran kotor aku padanya, tapi lagi-lagi Fajar cekatan dan menyadarkanku.
“ahem… Mad, jangan melamun gak baik” bisik Fajar membangunkan lamunanku.
“Eh, hahah gak juga akh Jar”
*********

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...