Embun pagi masih lekat
dalam tubuh setiap orang dan setiap benda yang hadir dalam perjalanan tanpa
atap, tak terasa badanku basah kuyup setelah aku memaksa menerobos dinginnya
udara subuh, aroma-aroma masakan yang mulai menjajalkan kelebihannya mulai
berlomba menarik perhatian orang yang kedinginan, ingin rasanya aku sejenak
menuruti kata perutku yang mulai tergoda dengan aroma nikmat ketan bakar khas
Lembang, tapi tugas yang memaksaku tuk tak bisa mampir walau hanya untuk
menjajal perut ini dengan sepotong ketan bakar, akupun terus mengayuh sepeda
layaknya pembalap sea games yang
hendak mencapai finish.
“Hoy, mad lu lagi
ngapain pagi-pagi dah ngayuh sepeda keliling komplek gue, hah…lu jadi pengantar
Koran rupanya, aduh kasian sekali kau Mad” sapa ejek teman sekelasku ketika aku
secara kebetulan mengantarkan koran tepat kerumahnya, aku hanya menanggapi
ejekan Rafi dengan dingin, pikirku aku tada waktu untuk melayani ejekannya itu.
“Yup Raf, aku memang pengantar koran, tolong tanda tangannya Raf di sini sebagai bukti bahwa aku betul-betul telah mengantarkan koran ke rumah ini” aku menyodorkan buku yang seperti biasanya aku bawa ketika aku berkelilling untuk membagikan koran.
“Ya, ya, ya, nih uang tips buat kamu, gak usah malu-malu ambil
saja aku tau kau lebih butuh uang ini dibandingkan aku” lagi-lagi Rafi
mnyodorkan ejekannya padaku.
“Tidak Raf, makasih”
akupun bergegas melanjutkan tugasku.
Tepat jam 7 pagi aku
masi belum selesai mengantarkan koran-koran, sedangkan aku baru ingat bahwa jam
8 aku ada jam kuliah, akupun bargegas menambah daya goesku, tapi malang ketika
aku sedang asik-asik menggoes sepeda, di pertengahan jalan menuju rumah
terakhir dari petualanganku itu, aku hampir
menabrak seekor kucing, dan aku berusaha menghindari kucing itu alhasil aku
tersungkur ke got tepat depan rumah yang akan aku kirimi koran.
“Astagfirullahaladzim, hampir saja” aku
berkata dalam hati pada diriku sendiri, dan aku mencoba untuk berdiri, dari
jarak yang tak begitu jauh aku melihat seorang watina cantik, putih, memakai
pakaian yang tidak membuat syahwatku bergairah, melainkan membuat aku
termangah-mangah melihat semua kecantikan yang tak pernah aku lihat sebelumnya.
“Aduh,
kamu kitty dasar, untung saja kamu tidak tertabrak sepeda itu” dia menceramahai
kucing yang hampir aku tabrak itu.
“Maaf
Neng, saya tadi tak sengaja”
“Owh
iya ga apa-apa kok, ekh, kamu gak kenapa-napa kan? Maaf memang kitty kucingku
suka susah diatur” jawab dia akrab
“Kitty
yah, nama yang cantik, astagfirullah,
aku kesini untuk mengantarkan koran ini tapi kayaknya koran ini sudah tak
layak, korannya basah kuyup, maaf mungkin aku akan ambilkan yang lain dan
kembali lagi kesini”
“Sudah
tidak apa-apa, biar nanti aku yang bilang pada ayahku kalau korannya sudah
dikirim, lagian ini bukan salahmu, biarlah nanti aku beli saja yang di depan
untuk hari ini sekalian aku ingin membeli makanan”
Tiba-tiba
aku teringat bahwa sekarang aku ada kuliah jam 8, dan aku menyambut baik ide
dari seorang perempuan itu walaupun seharusnya aku yang harus bertanggung jawab
tentang itu.
“Owh,
ya makasih kalau begitu, tolong tanda tangan ya disini sebagai tanda terima
barang” smbari menyodorkan buku
“Ya
tidak apa-apa”
Tanpa
menunggu lama aku bergegas pulang ke rumah tuk berganti kostum.
********
“Gawat!
Lagi-lagi aku kesiangan” gerutuku dalam hati ketika aku melihat pintu kelasku
sudah menutup rapat, dengan hati yang sangat tak karuan aku memberanikan diri
untuk masuk kelas walaupun pembelajaran sudah dimulai.
“assalamualaikum, Bu bolehkah saya masuk
kelas?” aku masuk meminta ijin pada Dosen
“Kamu,
Ahmad kesiangan mulu kerjanya, rumah kamu dimana si?” jawab Bu dosen ketus
padaku.
“Tamansari
Bawah Bu”
“Dasar
kamu, ahmad dari Tamansari saja kamu kesiangan mulu, sudah duduk sana, untuk terakhir
kalinya ibu membolehkan kamu tuk ikut perkuliahan ini”
Baru
saja aku mau duduk, tiba-tiba dari belakang Rafi mulai mencari gara-gara lagi,
“Malum
Bu Ahmad kan kalau malam suka begadang nungguin lilin, jadi dia bangunnya
kesiangan mulu” teriak Rafi dari belakang, sontak mendengar perkataan itu
hampir semua teman-temanku menertawai aku yang menjadi objek dari leluconnya
Rafi. Tak bisa aku pungkiri lagi jika aku mulai terpancing emosi, sejenak aku
yang tadinya akan duduk kembali berdiri dan menatap tajam Rafi yang jelas ku
lihat di pojok kanan kelas, aku tak tahan ingin meluapkan segala sesak ini
padanya, namun aku masi bersyukur masi ada teman baikku Fajar yang selalu
membuat aku ingat bahwa hal itu hanyalah perbuatan konyol, katanya kalah jadi arang menang jadi abu.
“Sudah
Mad, gak usah kamu ladeni dia, gada gunanya” Fajar mencoba meredam amarahku,
dan akupun menuruti apa kata Fajar
“Sudah-sudah,
kamu Ahmad, sudah kesiangan kamu malah membuat onar di kelas lagi,lebih baik
kamu untuk sekarang tidak usah mengikuti mata kuliah ibu untuk sementara, dan
nanti seusai mata kuliah ini ibu ingin bicara padamu di ruang dosen!” tak
inigin membuat dosen lebih murka lagi padaku akupun dengan hati yang menyesal
keluar dari kelas itu.
******
“kenapa
kamu Ahmad, belakangan ini sering sekali kesiangan, ibu dengar bukan hanya mata
kuliah ibu saja, tapi matakuliah yang lain juga kamu sering sekali kesiangan,
cerita saja sama ibu, ibu wali dosen kamu di universitas ini, artinya ibu punya
tanggung jawab, setidaknya bisa mengetahui permasalahan kamu Ahmad, mungkin ibu
bisa bantu” cerita Ibu Hj. Euis padaku, ketika aku menemuinya diruang dosen.
Aku lihat ibu yang sangat ingin mengetahui permasalahannku, bukan karna murka
karena tadi aku kesiangan dan membuat suasana yang tidak enak di kelas
melainkan karena ia merasakan ada hal yang mengganjal dalam hatinya mengenai
aku.
“Tidak
bu, tidak apa-apa, hanya saja belakangan ini saya agak sibuk dengan pekerjaan
saya, jadi setuju atau tidak, suka atau tidak saya harus mengorbankan waktu
sedikit untuk pekerjaan itu Bu, dan jika saya tidak begitu mungkin saya akan
sulit untuk tetap berkuliah disini” panjang lebar aku ceritakan semuanya pada
saat itu, dan aku merasa lega, tak ada
rasa penyesalan yang terbesit ketika aku berbicara semuanya kepada beliau, dan
alhamdulilah beliaupun bisa mengerti keadaan aku sekarang.
“Ya,
ibu ttahu sekarang kenapa kamu sering sekali kesiangan, ibu tidak bisa berbuatt
apa-apa jikalau memang begitu keadaannya, hanya saja ibu minta kalau bisa
jangan terlalu sering kamu kesiangan, itupun pasti menjadi penilaian tiap dosen
matakuliah, ibu tahu Ahmad pasti bisa”
Setelah
pembicaraan itu aku serasa mendapatkan semangat baru, aku merasa jika semua
yang hadir dalam hidupku ternyata masi peduli dengan aku yang hanya anak
sebatang kara, yang sudah lama di tinggal keluarga karena kebakaran yang
merenggut nyawa tiap nyawa keluargaku yang terjadi ketika aku masih kecil, ya
kira-kira aku masi berumur 17 tahun, ketika itu aku sedang bersekolah dan tidak
seperti biasanya kulihat langit mendung dan terkadang menyapaku dengan
rintikan-rintikan air jernih, kukira ini hanyalah hujan biasa, tapi tepat pukul
11 siang, aku tiba-tiba dipanggil pa kepala sekolah dan memberitahu jika
rumahku telah terbakar, sontak akupun tak sadarkan diri dan tak ingat apa-apa,
ketika aku terbangun aku telah berada di kamar tetanggaku, aku melihat dari
celah jendela kulihat hal yang berbeda rumah ku hancur tanpa bentuk, begitupula
rumah-rumah tetangga yang berdempetan dengan rumahkupun ikut hancur walaupun
tidak separah rumah aku, aku menangis melihtanya, tanyaku “dimana Ibu, Ayah,
Kakak dan adikku?” tapi lagi-lagi aku tak sadarkan diri dan masi belum bisa
menghadapi kenyataan pahit ini.
“Ahmad,
bangun Nak” terdengar suara Mak Asmin membangunkanku
“Nak,
kamu yang tabah ya, keluargamu rupanya mendahuluimu menghadap sang pencipta”
sambung
Mak Asmin padaku, aku masi tak bisa bicara apa-apa, hanya air mata yang terus
keluar membasahi pipiku, aku memberanikan diri hanya untuk sekedar melihat semua
anggota keluargaku yang kini sudah terkujur kaku membaris di depanku, dan sajak
kejadian itu sebelum Fajar menjadi siang aku harus bekerja mengantarkan
koran-koran untuk menghidupi diriku sendiri.
Seperti
biasa sebelum aku berangkat kuliah aku mengayuh sepeda yang slalu setia
menemaniku menembus dinginnya kota ini, lagi-lagi ketika aku mengantarkan koran
ke Rumah Orang tua Rafi, Rafi selalu mengejekku tapi aku tak pernah sekalipun
melayani dia karna aku selalu ingat perkataan temanku Fajar sewaktu itu, ada
yang aneh aku rasa ketika aku mengantar koran ke rumah terakhir dari rute
pengantaran koranku, aku tak pernah melihat seorang gadis yang waktu itu
bersama kucingnya, karna penasaran ketika aku mengantarkan koran ke rumah yag
aku yakini tempat kediaman gadis itu aku bertanya pada seseorang yang
kelihatannya perawat taman rumah itu.
“pa
kalau boleh tahu, anak gadis yang punya rumah ini kemana yah? Kok jarang
kelihatan lagi?” tanyaku pada perawat kebun ketika memberikan koran langganan
itu.
“owh,
Non Rani, Non Rani seminggu kebelakang memang tidak ada di rumah katanya si
sedang menguruskan kepindahan kuliahnya di luar negri sana tapi sekarang Non
Rani sudah ada disini, mau di panggilkan?” jelas Tukang kebun itu
“luar
negri?, owh gak usah Pak maksih” akupun melanjutkan perjalananku.
*****
“Ahmad
Sobandi!”
“Hadir
Bu” sahutku lantang
“Nah
gitu Ibu senang belakangan ini kamu tidak pernah kesiangan lagi” puji Bu dosen
padaku
“alhamdulilah
yah Bu” sambut Rafi dari belakang.
Yah,
apa boleh buat, aku hanya menanggapi sebagai angin lewat saja guyonan Rafi,
ksrena aku tahu jika dia biangnya masalah dalam hidupku ini.
Ketika
pembelajaran sedang berlangsung dan semua mahasiswa sedang serius memperhatikan
terdengar suara orang yang mengetuk pintu, pikirku “lah, siapa yang kesiangan
masuk kelaas, bukan main telatnya hampir 30 menit tapi dia masih berani untuk
masuk kelas, rupanya ada juga orang yang melebihi aku dalam sesi keterlambatan
masuk,” aku sontak menjadi penasaran siapa sebenarnya orang yang aku tapsir
kesiangan itu. Aku terus memperhatikan ke arah pintu, dan ketika pintu itu
mulai terbuka, kulihat remang-remang dari celah yang terbuka rupanya dia
seorang perempuan, dan ketika dia masuk kelas dan menghampiri Ibu dosen, aku
merasakan jika aku pernah mengenal dia, tapi entahlah siapa dan dimana. Semua
mahasiswa seolah-olah terhipnotis dengan kedatangannya, kalau boleh aku bicara
jujur memang dia sangat cantik ditambah lagi dia tak serta merta memperlihatkan
kecantikannya. Tak begitu jelas apa yang perempuan itu katakan pada Bu dosen
ketika itu, yang pasti sepertinya ia berbicara hal yang penting. Lalu perempuan
itupun terlihat mencari kursi yang kosong.
“Boleh
saya duduk disini?” tanya perempuan itu padaku.
“owh,
ya silakan” jawabku, sambil menatap dia, seraya mencoba mengingat-ngingat siapa
dia.
Hatiku
penuh dengan kepenasaranan, aku selalu mencoba untuk bisa berkenalan untuk
mengetahui siapa dia, tapi setelah aku beberapa kali ingin mengucapkan itu,
ternyata aku masi terlalu ciut untuk hanya sekedar berkenalanpun. Rupanya tak
hanya aku yang ingin berkenalan dengan dia, terlihat Rafi si manusia paling
usil juga mulai memamerkan keusilannya saat perkuliahan di bubarkan.
“hei
Cantik, siapa namamu, lainkali jangan duduk sebelahan dengan dia, nanti kamu
ketularan malas loh”
Perempuan
itu hanya membalas kata-kata Rafi dengan sebuah senyuman manis, entahlah
senyuman manis untuk pap itu, mungkin untuk menertawai kekonyolan Rafi ataupun
unuk menertawai aku yang saat itu disebut pemalas. Perempuan itupun bergegas
meninggalkan ruangan, disusul aku yang masi mencoba untuk mengetahui siapa dia.
Kulihat
atap langit mulai kelam, awan-awan berlomba maraton kesebelah barat, angin riuh
membuat suasana kian gaduh, tak lama berselang butiran-butiran air turun,
mengilhami setiap insan yang bertaburan, semua orang mulai mencari tempat untuk
berteduh, dan akupun memilih untuk sekedar berteduh di sebuah warung yang
terdapat di pinggiran jalan, kupesan kopi hangat untuk mengusir rasa
kedinginanku. Baru saja aku akan menyalakan sebatang rokok, tiba-tiba ada
seorang perempuan yang juga memilih warung ini untuk berteduh, dngan terpaksa
aku tidak jadi untuk menyalakan rokok, karena aku tidak ingin jika asap rokokku
ternyata membuatnya tidak nyaman, merasa jika perempuan itu ingin duduk tapi kebetulan
tak ada lagi bangku yang kosong, akupun berdiri dan mempersilakan perempuan itu
untuk duduk. Belum sempat aku mempersilakan dia untuk duduk, ternyata perempuan
itu adalah dia, dia yang tadi ada di kelas.
“ekh,
Teteh yang tadi di kelas kan, mahasiswa baru?” tanyaku tiba-tiba lancar
“oh,
iya” jawab dia singkat
“Teh,
perasaan kita pernah bertemu,, tapi kapan dan dimana yah?”
“Masa?
Aku kan anak baru di Universitas ini”
Untuk
sejenak aku terdiam, dan kemudian aku teringat jika aku memang pernah bertemu dengan
dia ketika aku mengantarkan koran,dan aku terjatuh ke got gara-gara menghindari
seekor kucing.
“hmm…aku
ingat, kita pernah bertemu ketika aku mengantarkan koran ke rumahmu”
“oh,
iya kamu yang hampir menabrak kucingku kan?”
“ya,
si Kitty kucing yang imut” tambahku senang
“hihihi,
lucu”
“apanya
yang lucu aku?, oh iyah namaku Ahmad” ujarku sambil menjulurkan tanganku
“Rani”
jawab perempuan itu.
Ada
yang unik aku rasa ketika aku hendak mensalaminya, tapi juluran tanganku tak
dia balas dia hanya menempelkan kedua tangannya dan diarahkan padaku
tanpabersentuhan sedikitpun. Dalam keadaan hujan yang tak kunjung reda, aku dan
Rani banyak bercerita di warung itu, entahlah berapa banyak episode yang aku
lewati dan berapa banyak cerita-cerita yang kami saling berikan pada waktu itu.
******
Subuh
ini, air embun masi menempel dalam rekatan-rakatan cat sepedaku, seperti biasa
dinginnya udara selalu menemani tiap jalur yang kulewati dalam menjalankan
tugasku sebagai loker koran, tada bedanya dengan hari-hari sebelum ini, masi
sama. Hanya saja hari ini aku rasakan tidak ada gangguan emosi seperti
biasanya, Rafi yang biasanya stand bay untuk mengejekku, tapi waktu itu dia
tidak terlihat sama sekali batang hidungnya, pembantunya yang menerima antaran
korankupun, bahagia rasanya pagi-pagi tidak sarapan ejekan Rafi, seperti
biasanya setelah dari rumah Rafi, aku melanjutkan ke rumah langganan
terakhirku, ya, dalam benakku semoga saja yang menerima antaran koranku Rani,
ku pijit bel yang ada di depan rumahnya, dan benar, Rani yang keluar dari rumah
itu.
“hei
Ran, Pagi, seperti biasa aku mengantarkan koran langganan Papahmu, tolong di
tandatangan ya disini”
“Hei
Ahmad, rajin banget jam segini sudah nganterin koran?”
“ya
Ran, aku takut kesiangan kuliah jika aku tidak rajin gini” jawabku so akrab
“hihihi,
ternyata kamu tidak seperti yang dibicarakan Rafi yah Mad” dia berkata padaku
sambil tersenyum manis
“dasar
kau Ran, yaudah aku pamit dulu yah, aku mau pulang dan siap-siap untuk kuliah,
sampai ketemu di kampus Ran, Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam,
makasih ya Mad?”
“ya
masama Ran” jawabku, sambil mengoes sepeda menjauhi rumah Rani.
******
Keadaan
kelas menjadi agak aneh, tak seperti bisanya hampir setiap mahasiswa khususnya
laki-laki berlomba untuk duduk di barisan paling depan, kulihat Rafi si biang
kerokpun nampaknya telah duduk di barisan paling depan, melihat keadaan itu aku
memilih untuk pindah tempat duduk, dan kupilih tempat duduk yang ada di
pertengahan kelas.
“Hei
Dit, lihat si Ahmad, dia pindah tuh, kira-kira kenapa yah?” bisik Anton pada
Rafi.
“Mana
ku tahu, mungkin dia takut sama aku jadi dia pindah, hahahaha” mendengar
perkataan itu aku sempat ingin memberi dia pelajaran tatak rama, tapi Fajar
selalu mencegahku.
“Udahlah
Mad, gada gunanya kau layani dia, aku sudah sering ingatkan itu Mad, lebih baik
kita diamkan saja dia, kata orang, sesuatu yang jahat itu tidaklah harus
dibalas dengan kejahatan lagi”. Fajar menasihatiku kembali.
“Ya
Jar, makasih dah mengingatkanku”
“Ok. No what-wahat lah Mad, he”
“hei
Mad, kau tahu tidak siapa perempuan yang masuk di kelas kita?” tambah Fajar
“Perempuan
yang mana, oh yang berkerudung dan masuk ketika pembelajaran sudah dimulai itu
bukan?
“yah
benar Mad, siapa dia?”
“Hmm….
Yang pasti ya, mahasiswa sini Jar, haha, Jar nama perempuan itu Rani” bisiku
pelan.
“Rani??
eh Mad itu dia datang, panjang umur”
“iyah,
sssttttt, udah ah jangan membicarakan orang lain Jar dosa”
“hei
Mad, lihat dia kesini tau” Fajar me
“ya
udah, gapapa kan dia juga punya privasi untuk apapun di kelas ini” aku agak
sewot pada Fajar yang terus-terusan bertanya dan mempermasalahkan Rani. Kulihat
saat itu Rafi dan Anton menawari Rani untuk duduk diasampingnya tapi benar
ternyata dia malah mendekati kami yang duduk di pertengahan bangku, akupun
merasa senang, karena jika dia memilih duduk di samping aku dan Fajar, mungkin
saja aku bisa lebih akrab. Dan hokynya aku pada waktu itu Rani, seolah-olah
mendengar apa yang aku pikirkan, dia semakin mendekati tempat duduk kami, dan
dia tepat duduk di debelah kananku.
“jah,
kenapa harus duduk disana si” gerutu Rafi pada Anton
“ya,
padahal kita sengaja duduk di depan hanya untuk bisa duduk berdekatan dengan
dia, tapi kenapa dia memilih di dekat si Ahmad pemalas itu yah?”
“hei
Ahmad Boleh aku pinjam buku catatan punya kamu?” tanya Rani mengagetkanku.
“ya,
boleh saja Ran, tapi maaf buku catatan saya Tidak rapih malah mungkin tidak
terbaca”
“ga,
apapa aku juaga tulisannya jelek, jadi pasti aku bisa baca tulisanmu, lagian
tulisanmu bagus menurut aku mah”
Kuberikan
catatan kuliahku pada Rani, kulihat wajah yang tak pernah aku lihat sebelumnya,
dan terlintaslah pikiran kotor aku padanya, tapi lagi-lagi Fajar cekatan dan
menyadarkanku.
“ahem…
Mad, jangan melamun gak baik” bisik Fajar membangunkan lamunanku.
“Eh,
hahah gak juga akh Jar”
*********
Tidak ada komentar:
Posting Komentar