Hari
yang cukup cerah untuk mengawali ospek yang dilaksanakan oleh Universitas
Pasundan Bandung (Unpas), saat itu Aku dan Agung mulai beradaptasi dengan
lingkungan yang baru Aku kenal, Aku dan Agung merupakan mahasiswa baru yang
saat itu sedang melegalkan dirinya untuk di akui sebagai salah satu mahasiswa
di universitas itu. Kira-kira pukul 07.00 wib.
Aku dan Agung beserta mahasiswa baru dibariskan di halaman parkir depan gedung
FKIP Unpas, mataharipun menyapa semua mahasiswa baru yang sedang berbaris
rapih, tapi ternyata tatibpun tidak mau kalah terhadap sambutan matahari,
tatibpun mulai menyapa pada Aku yang sedang berbaris, tentunya sangat berbeda
jika matahari menyapa mahasiswa baru dengan sentuhan hangatnya, sedangkan para
tatib menyapa Aku dengan makian dan sikap yang
memanaskan hati.
“heii,,, kamu
baris yang rapih!” tegur tatib padaku
“ukh,
padahal perasaan aku sudah baris dengan rapih, tapi masi saja kena omel,
dasar!” gerutuku.
Selang
beberapa jam, Akupun mulai dibagi kelompok dan tanpa terduga Aku dan Agung terbentuk dalam kelompok yang sama, tanpa
pikir panjang karena takut kena marah lagi Aku dan Agungpun mulai bersatu
dengan anggota kelompok lainnya,
dibawah tebing yang cukup kokoh dan di samping pepohonan yang menyaring
datangnya sinar matahari langsung menyapa
kulit kami, ada seseorang yang menghampiri dan
menyodorkan tangan kanannya pada Agung dan Aku, saat itu pula Aku mulai
berkenalan.
“Agung”
jawab Agung sambil bersalaman.
“salam
kenal yah, saya dari bandung”
“ya,
sama-sama, saya dan Aku dari Majalengka”
“wah
jauh juga ya?” tanya Zafar dengan ekspresi agak kaget
“ya,
lumayanlah Far, oh
iya ni Irfan teman aku Far kenalin juga sama dari majalengka”.
Dengan
bahagia akupun menenalkan diri pada Zafar, dari sejak itu kami mulai berteman
dan mulai merasa nyaman dengan arah-arah pembicaraan yang beragam, oh iyah
sebenarnya pada saat itu ada “Fajar” tetapi setelah berkenalan Fajar memilih
diam di belakang tebing barisan paling ujung.
Siangpun
tiba, kami dikumpulkan dalam satu ruangan kelas yang sebenarnya tidak layak
untuk menampung mahasiswa baru yang beratus-ratus, dan merekapun disana mereka
kembali dibagi kelompok, sungguh sial aku ternyata tidak satu kelompok dengan
Agung dan Zafar, sungguh kecewa rasanya, aku bingung karna terus terang aku masi belum
terlalu akrab dengan suasana ospek ini.
“haduh,
kenapa bisa terpisah dari mereka
sih?” keluhku, tiba-tiba Zafar memotong keluhanku.
“hey,
Fan papisah euy jeung kamu, sayah bareng ma Agung”
“iya
Far” jawabku singkat, dan aku bergegas bergabung dengan kelompok baruku. Aku
diam di pojok barisan kelompokku, membisu hanya menatapi keramaian ospek yang
tidak begitu aku rasakan.
“selanjutnya,
Irfan, Fajar dan Rully, silakan memasuki ruangan test minat dan bakat’’ kata
mentor kelompok kami. Saat itu aku baru sadar kalau aku pernah berkenalan
dengan yang namanya Fajar, dan aku melihat ke samping kiriku ternyata benar itu
Fajar yang sempat berkenalan denganku di tebing pagi tadi.
“ekh, Fajar yang
tadi di tebing kan?” tanyaku mengakrabkan diri.
“iah, hha
ternyata kita satu kelompok Fan”
Sejak
saat itu aku merasa mendapatkan penawar rasa bosannku melalui ospek, karena aku
telah mendapatkan teman, setidaknya teman untuk mengobrol dan menghilanglan
kebosanan saat ospek.
Kami bertigapun memasuki ruangan test minat dan bakat seperti yang
diperintahkan oleh mentor kami, belum juga aku sampai di tempat test, tiba-tiba
seorang panitia atau penguji langsung menyapaku, dengan sapaan yang hangat aku
rasakan.
“hei,
siang Brother”
Aku tak bisa bicara apa-apa, dan hanya tersenyum
untuk menghilangkan rasa gugup yang mulai mempropokasiku.
“Bambang” ujar pemberi test padaku sambil mengulurkan
tangannya.
“Irfan Hardian Kang” jawabku singkat
Tanpa bertele-tele Kang Bambang langsung memberikan beribu-ribu test padaku, pada saat itu aku
merasa bingung dan tidak tahu harus dibagaimanakan tiap pertanyaan yang Kang Bambang tujukan padaku,
aku hanya bisa menjawab dengan kejujuranku, alhasil aku merasa jika semua jawaban
yang aku berikan tidak bisa
memuaskan penguji khususnya aku sendiri. Hari pertama ospekpun hampir berakhir
semua mahasiswa baru brgegas membereskan apa-apa yang dibawanya, sengaja aku
menunggu yang lain keluar ruangan terlebih dahulu pada saat itu, karena aku paling
malas jika harus keluar berdesakan, tapi sebenarnya bukan karna itu saja,
melainkan aku sedikit kebingungan untuk pulang ke rumah kakaku, aku bingung
harus naik mobil angkut yang mana.
“hei Fan pulang kemana?” sapa Fajar memecahkan
kebingunganku
“ekh, Jar kirain sudah pulang kamu, Fan pulang ke
Lembang Jar, tapi aku gak tau harus naik mobil yang mana”
“oh, berarti kita satu arah Fan, udah bareng ma aku
ja, aku juga naik mobil angkut”
Dengan senang hati aku menerima tawaran Fajar untuk
pulang bersama, selama aku ada di mobil angkut aku tak banyak bicara, aku sibuk
dengan hand phone aku sendiri dan
Fajarpun sama.
“nah, udah Fan kita dah sampai, kamu kan mau ke
lembang nanti di sebrang naik mobil Ciroyom-Lembang bisa juga kamu naik St.
Hall-Lembang”
“sippp Jar, nuhun nyah”.
Hari kedua ospek Fakultaspun di depan mata, tak sabar
rasanya menanti hari esok untuk mengikuti kegian ospek terakhir, semalam suntuk
aku tak bisa tidur pulas. Gelisah seperti orang yang sedang jatuh cinta saja,
akibatnya mataku menjadi merah layaknya seorang pemabuk berat di pojok bar-bar,
sulit rasanya jika aku harus berangkat ospek dengan keadaan mata yang merah,
pikirku aku ingin bolos tapi inginku menjadi saksi detik-detik keabsahanku
menjadi mahasiswa di FKIP Unpas, walaupun dengan sedikit ragu akhirnya aku
memilih untuk berangkat dan mengikuti ospek terakhir itu.
***
tak ada yang berbeda sejauh ini dalam kegiatan ospek
kedua kupikir, masih sama seperti kemarin, kami seperti budak yang dipksa
bekerja oleh majikan, walau tak jarang ada musafir yang menenangkan kami, semua
orang yang mengikuti ospek ini pastinya akan berkata “bosan” termasuk aku yang
selalu kena marah tanpa sebab oleh tatib yang so menjadi raja. Tapi kebosanan
itu berubah seketika, ketika pembawa acara ospek mengumumkan bahwa sebentar
lagi akan ada acara Lomba Tiga Jurusan, walau kata-kata itu belumlah akrab aku
kenal, tapi dalam bayanganku dan mungkin dalam banyangan teman-teman yang lain
hal ini akan menarik. Sontak semuanya bersorak dan terlihat dari kejauhan
panitia ospek berkerumun dan bergabung dengan kami, hangat terasa kekeluargaan
di Universitas ini, atas komando panitia kami menyanyikan yel-yel dan jargon
kami.
“Bi the bi the bi”
“yoyoi yoa Indonesia is tehe best, yoyoi yoa Indonesia
is tehe best, eeeeeeee ahhhhhh”
Semua mahasiswa baru serempak dan terus menerus
menyanyikan jargon itu, rupanya dari jurusan lain juga tidak mau kalah dengan
kemeriahan dan semangat Bi kami, secara bergantian jurusan yang lainpun
melantunkan yel-yel dan jargon andalannya. Hingga akhirnya Lomba Tiga
Jurusanpun dimulai, macam macam aku lihat dan rasakan kemeriahan acara lomba
ini, dengan repleks kami terbawa suasana yang semakin meriah, saat itu yang ku
kenal Zafar, menari layaknya seorang yang kegirangan. Aku dan yang lainpun tak
mau kalah dan kami bergantian menyemangati teman kami yang saat itu terpilih
untuk mewakili Prodi kami di Lomba Tiga Jurusan itu. Lomba demi lomba
berlangsung meriah, aku ta begitu memperhatikan kemenangan yang aku rasakan
hanya memaknai tiap keharmonisan dan kemeriahan acara itu, kemeriahan yang
terjadi berubah menjadi deru bahagia dan tawa ketika juri mengumumkan bahwa
Prodi kamilah yang menjadi juara dalam lomba itu, sungguh hal itu melupakan
semua yang telah terjadi selama ospek yang menyisakan kelelahan dan kekecewaan.
Sorak porapun kembali berubah menjadi hening, ketika
tatib datang dan mengganggu acara, tak ada yang berani bersuara, keadaan hening
layaknya malam hari di pekuburan, dalam hela nafas aku terus berdoa semoga ini
cepat berakhir, kutelan air liurku sekedar ingin menenangkan hati ini, tatib
semakin menjadi, mereka ku anggap sudah keterlaluan, menyuruh teman-temanku
untuk kedepan dengan kasar, sangat kasar, dari belakang barisan seseorang
meulai geram, dia berdiri dan menghampiri tatib.
“hei, bukannya tadi kita di ajarkan cara untuk
meneyelesaikan masalah, bukan begini caranya tapi harus dengan kepala dingin”
kata peserta yang menghampiri tatib itu. Tapi apa daya dia hanya sendiri, tanpa
banyak bicara orang yang berkata itupun di amankan, entahlah dibawa kemana
orang itu. Keadaan yang tadinya meriah dan ramai dengan jargon, kini jadi
hening tanpa suara, semua orang menjadi kecut nyalinya. Tatib itu terus mencaci
maki kami tanpa alasan, lama-lama kamipun mulai geram dan kami mulai berontak
menentang, aku yang saat itu takutpun merasa bernyali baja, vocal menentang
tatib, adu mulut bahkan adu jotospun hampir kami lakukan, tapi ketika emosi
kami memuncak, tiba-tiba dari belakang ruangan ketua himpunan bahasa Indonesia,
bernyanyi dan memecahkan keributan yang terjadi serempak, kemudian di susul
dengan tepuk tangan semua panitia yang ada, bingung bercampur tawa kami
haturkan, rupanya semua ini hanyalah sosio drama saja, semua pesertapun kembali
di bariskan, kali ini tatib yang tadinya galak membuka kedoknya menjadi ramah, bahkan
ketika itu tatib yang awalnya sangat dibenci semuanya kini berubah menjadi
pujian semua yang mengikuti ospek ini.
Sang suryapun mulai terbenam, dan tak terasa acara
ospekpun usai sudah ketika Ibu Panca Prodi bahasa Indonesia menutup dan
meresmikan kami menjadi mahasiswa Unpas.
****
Aku bangun dari tidurku dan kurasakan ada yang berbeda
di hari ini, aku bergegas mandi dan kemudian berangkat ke kampus di hari
pertamaku kuliah, kupijakan kaki di universitas pasundan ini sebagai mahasiswa,
bukan lagi sebagai calon mahasiswa, bangga aku rasa, lalu kucari kelas yang
akan aku diami selama belajar disaini, dan ketika aku masuk ke kelas yang aku
cari, ternyata disana ada Agung, Fajar dan Zafar yang telah duduk di depan,
tanpa ragu lagi aku kemudian masuk dan duduk diantara mereka bertiga.
Wajah-wajah asing kulihat lambat alun memenuhi ruangan kelas, tapi dari tadi
aku memokuskan ingatanku pada dua orang
yang duduk di depan tepat disamping jajaran tempat dudukku, tak asing mukanya
dalam tatapan mataku tapi siapa, aku tak kenal mereka, aku terdiam sebentar dan
memeulai memutar otakku tuk mengingat siapa mereka.
“Fan, kenalin itu Maria dan yang sebelahnya lagi azka”
Zafar mengejutkanku.
Akupun mendekati kedua perempuan itu, dan kamipun
berkenalan, tapi masih saja hati ini terus berontak seakan memaksaku untuk
terus mengingat siapa mereka, tapi semakin aku mengingat-ngngat siapa mereka,
semakin lupa aku akan sosok mereka. Akhirnya aku tak mempermasalahkan siapa
mereka, kami berenam (Aku, Agung, Fajar, Zafar, Azka dan Maria) sejak saat itu
menjadi akrab dan tanpa basa-basi kami mengakrabkan diri diatas perbedaan
masing-masing, keakraban itu tidak hanya terjadi di dalam kelas tetapi
berlanjut di kehidupan yang lebih luas, kemana mana kami selalu bersama, bahkan
jika aku boleh mengibaratkan pertemanan itu, ibarat kancing dan baju.
Sesuatu yang paling aku suka dari pertemanan ini yaitu
kami seolah-olah berlomba dalam kegiatan akademik di kelas, setiap kelompok
lain persentasi maka kami berenamlah yang semangat untuk bertanya dan
memunculkan permasalahan, kegiatan itu terus berulang dalam setiap pembelajaran,
hingga akhirnya Maria mendeklarasikan bahwa kami adalah “Six Autiz”.
(22 januari 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar