Senin, 01 Juli 2013

Ospek Kenal

Hari yang cukup cerah untuk mengawali ospek yang dilaksanakan oleh Universitas Pasundan Bandung (Unpas), saat itu Aku dan Agung mulai beradaptasi dengan lingkungan yang baru Aku kenal, Aku dan Agung merupakan mahasiswa baru yang saat itu sedang melegalkan dirinya untuk di akui sebagai salah satu mahasiswa di universitas itu. Kira-kira pukul 07.00 wib. Aku dan Agung beserta mahasiswa baru dibariskan di halaman parkir depan gedung FKIP Unpas, mataharipun menyapa semua mahasiswa baru yang sedang berbaris rapih, tapi ternyata tatibpun tidak mau kalah terhadap sambutan matahari, tatibpun mulai menyapa pada Aku yang sedang berbaris, tentunya sangat berbeda jika matahari menyapa mahasiswa baru dengan sentuhan hangatnya, sedangkan para tatib menyapa Aku dengan makian dan sikap yang memanaskan hati.

“heii,,, kamu baris yang rapih!” tegur tatib padaku
“ukh, padahal perasaan aku sudah baris dengan rapih, tapi masi saja kena omel, dasar!” gerutuku.

Selang beberapa jam, Akupun mulai dibagi kelompok dan tanpa terduga Aku dan Agung  terbentuk dalam kelompok yang sama, tanpa pikir panjang karena takut kena marah lagi Aku dan Agungpun mulai bersatu dengan anggota kelompok lainnya, dibawah tebing yang cukup kokoh dan di samping pepohonan yang menyaring datangnya sinar matahari langsung menyapa kulit kami, ada seseorang yang menghampiri dan menyodorkan tangan kanannya pada Agung dan Aku, saat itu pula Aku mulai berkenalan.


PENANTIAN TERAKHIR



Disini aku berdiri, bukan karna aku ingin melangkah ataupun berlari melainkan hanya sekedar mengenang semua yang telah ku lewati bersamamu, masih sama seperti dulu, air yang tenang, angin yang berhembus menyegarkan pikiran, burung-burung yang selalu menyapa setiap orang yang langlang-lingling  menyelusuri tempat ini, sungguh suasana ini membuat aku semakin larut dalam khayal.
“Langitnya indah yah By”
“Hmmm…ya, tapi sebenarnya ada yang lebih indah dibandingkan dengan langit itu” jawab Biyan padaku sambil tesenyum.
“Wahh,,, apa itu By?”
“Sesuatu yang sangat indah bagiku yaitu bisa mengenal dan bersahabat denganmu Dit” lagi-lagi dia menjawab sambil tersenyum padaku, aku sungguh sangat bahagia dia berkata begitu, walaupun dalam hatiku menyimpan dan mengiginkan lebih dari itu.
“Dasar kau By!”
“Ye, kenapa memangnya Dit, kamu kebratan?” Tanya Biyan padaku dengan raut wajah yang sangat berbeda dari yang tadi.
“Tidak By, hanya saja itu seperti berlebihan, aku hanya manusia biasa mana mungkin aku bisa menyaingi keindahan langit”
“Liat mataku Dit, apakah aku kelihatan bergurau?” Biyan tiba-tiba menatapku dengan tatapan mata yang tidak seperti biasanya, akupun tak kuat tuk terus melihat matanya, dan akupun memalingkan penglihatanku darinya


Hidupku Dimulai Ketika Fajar



Embun pagi masih lekat dalam tubuh setiap orang dan setiap benda yang hadir dalam perjalanan tanpa atap, tak terasa badanku basah kuyup setelah aku memaksa menerobos dinginnya udara subuh, aroma-aroma masakan yang mulai menjajalkan kelebihannya mulai berlomba menarik perhatian orang yang kedinginan, ingin rasanya aku sejenak menuruti kata perutku yang mulai tergoda dengan aroma nikmat ketan bakar khas Lembang, tapi tugas yang memaksaku tuk tak bisa mampir walau hanya untuk menjajal perut ini dengan sepotong ketan bakar, akupun terus mengayuh sepeda layaknya pembalap sea games yang hendak mencapai finish.
“Hoy, mad lu lagi ngapain pagi-pagi dah ngayuh sepeda keliling komplek gue, hah…lu jadi pengantar Koran rupanya, aduh kasian sekali kau Mad” sapa ejek teman sekelasku ketika aku secara kebetulan mengantarkan koran tepat kerumahnya, aku hanya menanggapi ejekan Rafi dengan dingin, pikirku aku tada waktu untuk melayani ejekannya itu.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...