Kamis, 31 Desember 2020

After The Rain

Waktu cepat sekali berlalu, tapi rasa masih tetap sama. Menunggu waktu yang telah ditunggu sekian lama akhirnya kini sudah ada di depan mata. Aku masih berkeliaran di luar, walaupun kebanyakan orang menganggap bahwa sudah seharusnya aku diam di rumah saja. Bukan tanpa alasan aku tidak berdiam diri di rumah, melainkan tugasku yang harus aku selesaikan saat itu juga. Satu minggu menuju pernikahan aku masih berkutat dengan skripsiku saat itu. Aku pikir, tak ingin lah pascamenikah aku masih sibuk dengan urusan kuliahku.

Irfan Hardian, calon suamiku ini ia berasal dari Majalengka. Ia kuliah S1 dan S2 di Bandung dan tinggal di Lembang. Kami satu almamater, tetapi kami berbeda tahun masuk. Kami berbeda angkatan, dia adalah kakak kelasku dan jarak umur kami cukup jauh. Kami selalu bertemu karena aku dulu mengikuti himpunan mahasiswa dan dia adalah demisioner himpunan tersebut, sehingga kami bisa bertemu dan ternyata bisa menjadi sejauh ini.

Seminggu menjelang hari pernikahan kami, ia masih ada di Bandung menemaniku menyelesaikan skripsi yang hanya menunggu tanda tangan dari pembimbingku. Aku sudah memintanya untuk pulang ke Majalengka, agar ia tidak terlalu kelelahan menjelang pernikahan kami nanti, tapi ia menolak, ia masih saja ingin menemaniku menyelesaikan urusanku ini.

29 Juni 2018, hari itu sangat melegakan bagiku karena dosen pembimbing, jajaran prodi, dan dekan ada di kampus pada hari itu. Pagi sekali aku berangkat ke kampus agar bisa cepat menyelesaikan segalanya. Usaha memang tidak pernah mengkhianati hasil, segala upaya yang telah kutempuh akhirnya berbuah manis. Siang itu, skripsiku selesai ditanda tangani oleh dosen pembimbing, ketua prodi, dan dekan. Hari itu juga aku bergegas menyelesaikan segala administrasi untuk persyaratan daftar sidang skripsi gelombang 1, dan siang itu juga segala sesuatunya telah selesai, aku bisa tenang menuju hari pernikahanku itu.

Seminggu kemudian, tepat pada tanggal 08 Juli 2018. Hari yang ditunggu telah tiba, dengan perasaan bahagia, haru, bahkan tak terasa air mata selalu jatuh sampai waktu akad tiba. Kita pernah duduk berdua dalam kakunya kata. Bukan main ketika kita menertawakan diri atas ketidaksangkaan yang tadinya aku kamu menjadi kita. Pada ruang kecil yang selalu menjadi tempatku bersembunyi untuk melihatmu, kini mengantarkanku pada kebebasan dan kepuasan untuk memandangmu. Bukankah itu sebuah kebahagiaan? Karena kebahagiaan bukan melulu berbicara tentang cinta, namun melihatmu dari dekat itu sebuah kebahagiaan yang tak biasa aku dapatkan. Berbicara tentang masa depan, aku dan kamu bukan berarti melepas, menghapus, dan melupakan masa lalu yang selalu menjadi pelajaran. Tanpa adanya masa lalu, momen yang lalu, sulit untuk kita menjadi lebih baik agar bisa saling melengkapi dan melindungi.

Setelah satu bulan pernikahan, aku mulai gelisah. Entahlah, tubuhku merasa tidak nyaman untuk melakukan segala hal. Aku yang biasa tidak merasa jiji dengan hal yang berbau tajam, kini malah aku menghindarinya. "Apa aku hamil?" Pikirku saat itu karena sudah telat beberapa hari. Aku tidak ingin memikirkan hal ini terlalu jauh, aku takut stres karena saat itu aku menjelang sidang. Selepas sidang, barulah aku pikirkan hal ini lagi.

Dua minggu setelah sidang, tubuhku semakin tidak nyaman. Mencium aroma nasi pun rasanya ingin muntah. Dari situ aku teringat bahwa bulan ini aku belum datang bulan. "Apa aku hamil?" Pertanyaan  itu terlintas kembali dalam pikiranku. Aku cerita semua hal yang aku rasakan ini pada suami, dan sorenya suamiku mengantarku ke dokter untuk diperiksa. Kami berpikir bahwa maghku kambuh, karena perut bagian bawahku sakit. Ketika diperiksa, dokter mengiyakan bahwa ini magh. Beberapa hari kemudian, aku tidak yakin ini magh karena sudah meminum obat beberapa kali pun tak kunjung sembuh. Saat di klinik sore itu, ketika aku mengambil obat di apotek, aku diam-diam membeli tespek tanpa sepengetahuan suami. Sebab perutku tak kunjung sembuh dan bulan ini aku masih belum haid, aku iseng pukul 03.00 pagi aku menggunakan tespek itu dan hasilnya garis dua. Lututku lemas saat melihat hasilnya, "apa bener?"

Paginya aku bercerita soal ini, dan suamiku hanya bengong melihat aku yang menunjukan hasil tespek. Saat itu, ada vidio yang sedang viral yaitu kebahagiaan Hamish yang diberi tahu Raisa bahwa ia hamil. Aku coba, dan ternyata tidak seperti vidio viral itu, malah suamiku bingung "apa maksudnya ini?" Hahahaha. Aku mencoba menjelaskan, dan nampak bahagia walaupun dari pancaran matanya ia tetap terlihat kebingungan. Aku coba menghubungi temanku yang berprofesi bidan, aku ceritakan segalanya dan ia menyarankan untuk diperiksa. Aku masih ragu, aku takut kalau ini salah. Aku mencobanya kembali dua hari kemudian, tepat malam takbiran Iduladha tahun itu. Hati terus mengikuti takbir, agar tetap tenang mencobanya kembali. Lalu, hasilnya tetap sama. Aku postif hamil.

Senin, 27 Agustus 2018 untuk pertama kalinya aku pergi ke dokter kandungan untuk periksa kehamilan. Kali pertama aku di usg, ternyata janinnya tidak terlihat. Aku mencoba untuk terus tenang, walaupun hati tetap takut kalau aku belum hamil. Dokter menyarankan untuk usg transvaginal, dan suami mengizinkan. Ketika diperiksa, perasaanku ngga karuan tapi ternyata, dokter menunjukan janinnya sudah terlihat. Ia menunjukan letak janinnya dan ternyata usianya sudah 6 minggu. Bahagia sekali saat itu, melihat raut wajah suamiku pun terlihat sangat bahagia.

Rezeki sudah Allah atur sedemikian rapi. Aku tidak menyangka, selepas menikah aku bisa langsung dipercaya oleh-Nya mendapatkan amanah yang sangat luar biasa ini. Dikehamilan pertamaku ini, aku tetap bekerja. Selepas sidang skripsi, aku melamar ke sebuah instansi dan aku diterima sebagai pendidik tingkat SMP di Bandung. Jarak antara rumah dan sekolah cukup jauh, dan aku memilih kereta karena sudah terbiasa sejak kuliah, pergi naik kereta pulang dijemput suami atau sebaliknya. Aku menjalani pekerjaan ini dengan rasa senang, walaupun memang terkadang terasa sangat melelahkan.

Ternyata hamil itu begini ya rasanya, ditrisemester pertama badanku sampai drop dan turun 5 kg karena selalu mual muntah. Terkadang, ketika melihat nasi terlihat seperti ulat menggeliat di atas piring, itu sangat menjijikan. Aku terus berusaha supaya aku bisa makan nasi, mulai dengan menu masakan yang berkuah, kaya bumbu, atau aku selalu meminta pada suami dibelikan makanan dari luar dengan harapan agar nafsu makanku bisa bertambah. Ada keunikan saat aku hamil muda, tiba-tiba ingin ini, ingin itu, terkadang aku selalu menertawakan diri sendiri "kok aneh ya." Suatu ketika, aku ngidam ingin mencium aroma hajatan. Aroma masakan yang bercampur dengan wangi bunga segar khas orang nikahan. Entahlah, suamiku sampai kebingungan harus bagaimana. Aku tidak memaksakan segala hal yang aku idamkan, walaupun memang terkadang hati terasa sedih jika yang diidamkan tidak terpenuhi. Suatu ketika, ada teman yang mengundang ke acara pernikahannya. Tidak pikir panjang, dihari pernikhan temanku itu kami berangkat dan disana aku merasakan kenikmatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Nikmatnya bau hajatan.

Saat hamil, aku jadi lebih senang bereksperimen. Aku senang memasak, aku mencari makanan apa yang belum pernah aku buat. Walaupun terkadang hasilnya tidak sesuai dengan keinginan, tetapi hal itu membuat hatiku lebih senang daripada diam tak melakukan kegiatan. Ketika di sekolah pun, terkadang aku selalu kepikiran membuat sesuatu dan langsung aku cari resepnya. Entahlah, walaupun ketika mual muntah tapi ketika memasak aku merasa baik-baik saja. Padahal, ketika makan aku sulit sekali untuk bisa merasakan makan enak.

Trisemester pertama terlewati dengan berbagai rintangan karena mual muntah yang tak tertahankan. Ketika masuk trisemester kedua, nafsu makanku mulai membaik. Dokter selalu menyarankan untuk tetap makan sedikit tapi sering. Tetapi, ketika memasuki trisemester dua, justru nafsu makanku bertambah, dan malah makan banyak juga sering. Hahahaha.

Berbagai macam hal saat hamil terus aku jalani dan nikmati. Mual, muntah, kepala pusing, sakit pinggang, dan lainnya seperti sudah santapan sehari-hari. Tetapi, hal itu terobati dengan adanya gerakan lembut pada perutku. Pertama kali aku merasakan seperti ada kedutan di bawah perut, sesekali aku usap lembut perutku, kedutan itu selalu muncul. Aku coba meminta pada suami untuk mengelus perutku karena aku ingin tahu bagaimana reaksinya. Dia sangat senang, merasakan pertama kalinya janin dalam perutku ini bergerak. Setiap ia sedang tidak melakukan apapun, ia selalu mengelus perutku dan menunggu gerakan si jabang bayi. Hariku semakin berwarna dengan momen-momen seperti ini. Terima kasih ya Allah, Engkau telah memberikan kebahagiaan yang tak terhingga bagi keluarga kami.

Setiap bulan, momen yang paling dinantikan adalah periksa kandungan. Ketika usg, kami selalu menantikan tingkah gemasnya yang terus bergerak aktif. Aku selalu menunggu ia menendang, atau menggerakan tangannya ketika usg, gemas sekali melihat tangan dan kakinya yang mungil bergerak-gerak seperti meminta ingin cepat keluar. Sabar yaa hihi.

36 minggu usia kehamilanku. Tepat 9 bulan kehamilan ini membuatku sedikit cemas, rasa takut dengan proses melahirkan dan lainnya. Suami selalu menenangkan dan menguatkan, ia selalu meyakinkanku bahwa aku bisa melewati ini. Tepat diusia 9 bulan, hari itu pun tepat jadwal periksa kandungan. Seperti biasa, sore hari aku dan suami bergegas ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Ketika diperiksa, semua normal. Dokter mengatakan bahwa insyallah minimal satu minggu lagi harus sudah bersiap. Selama kehamilan aku selalu memeriksakan diri ke dokter dan bidan. Senin ketika tepat 9 bulan kehamilanku, hari jumat aku memeriksakan diri kembali ke bidan dan hasilnya pun sama, semua normal tinggal menunggu waktu.

Sepulang dari bidan, entah mengapa hatiku merasa tidak karuan. Bukan cemas karena menjelang lahiran tetapi perasaan lain seperti akan terjadinya sesuatu yang menyedihkan. Aku terus berdoa, berpikiran positif, tetap tenang agar tidak stres. Keesokan harinya, bayiku bergerak tidak seaktif biasanya, dalam sehari ia hanya bergerak beberapa kali saja itu pun karena rangsangan. Keesokan harinya, hari minggu ini seperti hari kemarin ia tidak bergerak aktif bahkan lebih lama jeda bergeraknya. Aku ingin memeriksakan diri, tapi apa daya faskes tutup, dokter libur, dan bidan pun tutup. Aku terus merangsangnya agar ia tetap bergerak, dan malam harinya betapa bahagianya aku dan suami, janinku bergerak kembali walaupun hanya sebentar.

Senin, 25 Maret 2019 pagi seperti biasa aku melaksanakan shalat subuh. Sejak bangun tidur, hatiku terasa hampa tidak seperti biasanya. Ketika aku melaksanakan shalat subuh, di sujud terakhir janinku bergerak sangat keras dan cepat. Terasa sangat sakit tapi aku tidak beranjak dari sujud itu, tak terasa air mataku mengalir dan ucapku dalam hati, "Ya Allah, jika ini adalah sujud terakhirku maka matikan hamba dalam keadaan khusnul khatimah, berikan kebahagiaan pada suami dan anakku jika hamba harus meninggalkan mereka."

Usai shalat, suamiku menatap tajam. Tersimpan keresahan dan kecemasan pada bola matanya. Ada beban yang sangat mencekik lehernya, sangat berat menekan dadanya. Aku tahu, ia merasakan hal yang sama. Tidak basa basi, suamiku memintaku untuk ke bidan pagi ini, karena kalau ke rumah sakit dokter belum ada dan aku mengiyakan. Pukul 06.00 aku bergegas pergi ke bidan, hatiku terus berdoa agar tidak terjadi hal buruk yang menimpa kami. Semenjak sujud terakhirku itu, bayiku tidak lagi bergerak walaupun aku merangsangnya dengan berbagai cara. Ketika di bidan, ia memeriksa dan terus mencari letak jantung si janin. Beberapa kali dicoba ia tidak menemukan. Bidan langsung merujukku untuk pergi ke rumah sakit agar bisa ditangani langsung oleh dokter. Dengan perasaan yang kacau, air mata terus mengalir, dada semakin sesak, pikiranku kacau dan terbang entah kemana. Kami menunggu dokter lama sekali, kami masih bisa bercanda untuk menghilangkan rasa cemas kami. Waktu pemeriksaan tiba, ketika diperiksa, ekspresi dokter nampak kebingungan dan berbicara pun sedikit hati-hati. Aku yakin, sejak pertama ia periksa, ia sudah tahu bahwa detak jantung janinku ini sudah tak ada. Tapi ia terus membahas yang lain-lainnya dulu agar aku tidak langsung kaget mengetahuinya. Kemudian dokter pun berbicara bahwa detak jantung janinku sudah tak ada, dan kemungkinan janinku sudah meninggal beberapa hari.

Tubuhku berasa dihujam langit, tubuhku berasa hancur ditimpa bebatuan. Dadaku semakin sesak seperti tak mampu lagi untuk bisa mengatur nafas. Aku berharap ini hanyalah mimpi, tapi aku terus berdoa agar aku tidak kehilangan akal. Hari itu juga aku langsung dibawa ke ruang bersalin untuk diinduksi agar bisa melahirkan. Aku dan suami kebingungan bagaimana mengabari keluarga tentang ini. Ketika aku sedang menunggu di ruang bersalin, keluargaku datang dan menangis. Mereka sibuk bertanya mengapa bisa terjadi, aku hanya terdiam dan menangis karena berkata pun rasanya tak mampu.

Dua hari satu malam aku merasakan sakitnya diinduksi, mulai dari menggunakan pil, infusan, sampai memasukan balon ke pintu rahim agar bisa terjadi pembukaan karena sudah dua hari ini masih belum ada pembukaan. Dengan memasukan balon ke pintu rahim akhirnya terjadi pembukaan begitu cepat. Tepat pukul 17.30 dokter dan suster bersiap karena sudah pembukaan sembilan. Tidak ada lagi rasa takut dan sakit yang aku rasakan, melainkan kebahagiaan karena ini waktunya aku berjuang. Dengan segala upaya aku melahirkan buah hatiku yang sudah tak bernayawa, dengan segala rasa sakit yang aku rasakan, dengan segala alat bantu agar bayiku cepat keluar, pada akhirnya tepat kumandang adzan magrib ia lahir walaupun aku tidak mendengar suara tangis sedikitpun.

Dokter mencari penyebab mengapa bayiku bisa meninggal dalam kandungan, tapi memang jika sudah takdir tidak ada yang bisa menjadi alasan mengapa itu bisa terjadi. Setelah melahirkan, semua bergegas meilhat bayiku. Aku terdiam sendiri di ruang bersalin, terkujur kaku, terkujur lemas, dan terus menangis memuaskan diri atas kesedihan yang terasa. Aku ikhlas, aku sadar bahwa ini adalah teguran dari Allah agar aku harus bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Aku yakin, ini adalah kesempatan yang diberikan-Nya agar aku dan suami bisa menjadi pasangan yang baik dan belajar menghadapi sikap masing-masing. Ini adalah waktunya evaluasi diri, agar nanti ketika sudah waktunya diberikan momongan lagi, aku dan suami sudah benar-benar siap mental dan lainnya.

Al Fatih Rizky Hardian, kami memberi nama itu padanya. Harapan besar bagi kami agar ia bisa menjadi imam besar untuk umat islam kelak. Tetapi, harapan itu pupus sudah terbawa dengan segala rasa pahit yang terkemas pada momentum tersebut. Gema takbir saat itu membawaku untuk bersujud, tanda syukur kali pertama yang kutahu kehadiranmu. Aku menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya agar aku dan kamu selalu dalam lindungan-Nya. Nyatanya benar, kita selalu berpelukan, dan selalu dalam kehangatan pelukan-Nya. Sampai saat ini, aku selalu bersyukur karena kamu bagian dariku dan aku bagian darimu, serta kita adalah milik-Nya.

Baru aku rasakan perpisahan yang paling mewah sampai suasana buncah seakan tubuh dihujam langit. Tapi, itu tak membuat syukurku lenyap atas kehadiran dan kepergianmu. Aku selalu bahagia karena telah diberi waktu kemanapun bersamamu, dan aku selalu bahagia karena kini ada yang selalu berdoa dan menanti yang kau sebut ibu dan ayah untuk menemuimu.

Ada yang berirama dengan nyata di setiap indera. Terbungkus rapi dengan senyum: kesakitan yang diderita. Semua terasa baik: yang terlihat, terdengar, dan teraba. Namun, semua terasa hambar saat keheningan datang dan mengubah suasana. Hati semakin berteriak "tolong" kala yang terasa semakin mengoyak hati, menggoncang pikiran, dan melelehkan air mata yang sengaja dibekukan. Hati yang semakin teriris, membuat mata ingin menangis. Dan pikiran pun berkata: "Menangislah jika ingin, menangislah jika itu merasa lebih lega, menangislah selama yang kau mau, tapi setelahnya kau harus sadar bahwa sekuat apa pun kau menangis, yang telah pergi tak akan pernah bisa kembali.

Hari-hari yang kulewati pascamelahirkan terasa gelap. Aku yang hanya ingin terbaring, bahkan tak sadar waktu cepat sekali berlalu. Pagi ke pagi berikutnya terasa sekejap, mungkin karena pikiran dan rasaku yang seperti tak ingin merasakan dunia. Dunia yang telah kubuat ternyata bukanlah yang baik di mata Allah, tapi aku yakin bahwa Ia telah merencanakan sesuatu yang jauh lebih baik lagi.

Pascamelahirkan waktu yang kuisi dengan suami lebih banyak diisi dengan hiburan dan liburan. Kami pergi liburan ke pantai, kami berburu kuliner lezat, dan banyak hal yang membuat kami terhibur agar kami tidak larut dalam kesedihan.

Lima bulan pascamelahirkan, aku kembali terpikir untuk program hamil. Aku ingin sekali hamil lagi, walaupun memang trauma masih membayang. Saat itu, aku mencoba memulai dengan hidup sehat, memakan makanan bergizi, sayur, buah, daging dengan seimbang. Saat itu, aku sedang senang sekali membuat salad buah. Disetiap minggunya, aku membuat itu agar aku tidak bosan. Suatu ketika, aku membuka instagram teman. Ia menjual kurma muda, dan di keterangan fotonya tertulis bisa digunakan untuk program hamil. Aku ceritakan ini pada suami, dan ia mengiyakan untuk mencoba.

Aku coba membeli hanya 500 gr, karena memang aku bukan penikmat kurma. Ketika aku coba, ternyata rasanya jauh dari pikiranku tentang kurma. Buah kurma yang biasa aku makan rasanya pasti manis legit, tapi kurma muda ini lain, rasanya manis segar seperti buah apel. Selama satu minggu aku mengonsumsi buah kurma ini sehari tiga, begitu pun suamiku. Dengan mengucapkan bismillah, semoga ikhtiar ini dapat membantuku untuk bisa hamil kembali.

September ini aku merasa sehat, karena hariku selalu terasa manis karena buah-buahan. Hihi. Bahkan, pikiranku yang ingin sekali hamil lagi mengikis, aku dan suami jarang membicarakannya. Entahlah, mungkin cukup doakan saja dan terus berusaha agar keinginan itu bisa terwujud, karena jika terus dibahas pikiran dan perasaan tidak pernah rileks, jadi selalu kepikiran.

Sebulan kemudian, perasaan tidak tenang itu muncul kembali. Lama sekali aku tidak haid. Kepalaku pusing, badanku lemas, perutku sakit, aku takut kalau aku stres memikirkan hal ini. Tapi, suatu pagi aku iseng. Aku penasaran apakah aku hamil? Karena lama sekali aku belum datang bulan. Tanpa berharap banyak, aku coba. Ternyata, hasilnya adalah positif.

Lututku gemetar, kepalaku pusing semakin menjadi, aku terus menangis di kamar mandi. Dalam hati aku terus menyebut Allahuakbar, aku takut ini tidak nyata, aku takut nanti malah kecewa. Siang harinya, aku memberikan tespek itu kepada suami dan ia nampak bahagia sekali, matanya berkaca tanda haru. Aku tahu, dalam hatinya penuh dengan rasa syukur.

Tidak pikir panjang, aku langsung periksakan diri ke dokter. Ternyata benar, aku sedang hamil lima minggu. Bahagia sekali rasanya, bisa dipercaya kembali oleh Sang Maha Kuasa untuk bisa hamil lagi. Semoga, kehamilan keduaku ini tidak ada hambatan, dimudahkan, dan dilancarkan segalanya. Aamiin.

Dari awal kehamilan ini, dokter sudah mewanti-wanti agar aku tetap terus menjaga segala hal yang aku lakukan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Kemudian, dokter pun mengatakan bahwa ternyata tulang pinggulku kecil, sehingga ketika melahirkan sebelumnya sangat sulit keluar. Dokter menyarankan untuk lahiran nanti operasi saja, menjaga segala hal yang tidak diinginkan, dan selain itu untuk tetap menghindari segala trauma yang pernah dialami.

Walau pun begitu, aku masih tetap beraktivitas seperti biasa. Aku bekerja, menjalankan statusku sebagai istri pula, sambil menjaga kehamilan keduaku ini dengan sangat hati-hati. Beruntungnya, diawal kehamilanku ini aku tidak mual muntah, sehingga aku bisa lahap makan agar janin yang sedang kukandung selalu sehat. Tapi ternyata, memasuki trisemester kedua mual muntah itu datang dan akhirnya aku turun 2 kg juga Hb rendah dan ini sangat berpengaruh terhadap kesehatanku dan janinku.

Menjelang trisemester ketiga, aku sudah berencana untuk mengambil cuti lebih awal agar menjelang persalinan aku lebih banyak istirahat, dan fokus mempersiapkan lahiran nanti. Tapi, keadaan berkata lain. Memasuki bulan ke-7 kehamilanku ini, bumi dilanda virus dan membuat banyak sekali pekerja dirumahkan. Covid-19 ini membuat sebagian orang kehilangan pekerjaannya, bahkan yang lebih parahnya lagi banyak sekali yang kehilangan keluarganya karena meninggal akibat terkena virus covid-19. Begitu pun aku, tadinya ingin cuti ternyata malah harus work from home.

Aku sangat cemas, bagaimana nanti aku melahirkan dalam kondisi separah ini. Aku takut sekali jika harus keluar rumah, apalagi melahirkan di rumah sakit. Tetapi, suami terus menenangkan agar aku tidak stres memikirkannya. Kami terus berdoa agar kami terhindar dari penyakit dan diselamatkan.

Rabu, 20 Mei 2020. Aku melahirkan anak ke-2 yang kuberi nama Rezvan Azzikri Hardian. Nama Rezvan ini aku terinspirasi dari postingan TheAsianParents yang isinya tentang inspirasi nama-nama bayi laki-laki, dan Rezvan artinya adalah laki-laki yang selalu semangat dalam menuntut ilmu. Azzikri adalah diambil dari kata dzikir yang artinya selalu mengingat Allah, dan Hardian adalah nama belakang dari ayahnya yang insyallah artinya baik. Sehingga, doa kami atas nama ini adalah semoga anak kami menjadi laki-laki yang selalu semangat dalam mencari ilmu dan berdzikir (mengingat Allah).

Dengan perjuangan dan penantian yang meminta kesabaran untuk mengambil alih perjalanan. Keyakinan yang terus mendorong agar semangat melewati ujian hidup, dan yakin atas kuasa-Nya. Melewati pengalaman yang begitu pahit terbayar dengan manis. Senyum, tawa, dan tangis mengiringi perjuangan untuk bersabar dalam penantian. Terkadang pula menahan rindu kepahitan yang sudah terlewati. Hujan pun ada redanya, tangis pun ada leganya. Semoga menjadi anak soleh yang selalu taat dan bersyukur atas nikmat Allah. Insyallah kakakmu pun tersenyum melihat engkau lahir dengan selamat. Rezvan Azzikri Hardian, doa tersirat pada namamu yang insyallah Allah kabulkan. Semoga atas kelahiranmu mampu membuat Ibu dan Ayah menjadi orang tua yang baik, dan membawamu menjadi anak yang soleh.

Aku selalu yakin, dibalik kesulitan pasti ada kemudahan, setelah kesedihan pasti ada kebahagiaan. Setelah hujan, pasti selalu ada pelangi walaupun tak selamanya. Tapi, aku selalu yakin bahwa hujan adalah berkah, dibalik tetesan air hujan adalah doa, begitu pun tetesan air mata. Rainbow baby adalah istilah bagi bayi yang lahir setelah orang tuanya pernah mengalami stillbirth (meninggal dalam kandungan) atau pun mengalami keguguran, dan istilah itu memang tepat karena hadirnya kini seperti pelangi yang senantiasa mewarnai hari.

 

Kata kunci:

https://id.theasianparent.com

https://id.theasianparent.com/stillbirth-adalah

Jumat, 16 Agustus 2013

Pesan Moral dari Komik Crow After Match

Sebagai seseorang yang gemar membaca komik maka tak ada salahnya saya share sesuatu yang di dapatkan dari hasil bacaannya, ini adalah salah satu yang saya dapatkan dari hasil saya membaca komik "crow after ma" karangan Hiroshi Takahasi pada chapter 3.

Saya tertarik untuk mempublikasikan pesan yang disampaikan oleh pengarang melalui tokoh Zetton ketika peperangan antar sekolah "tawuran" yang di sebabkan oleh salah satu murid sekolah yang merasa dirinya mampu melakukan hal itu walau dalam pikirnya ia bisa berbuat begitu karena di belakang mereka "backing" ada seekor harimau yang begitu kuat. tanpa ragu murid tersebut menantang sekolah lain untuk berperang, namun yang terjadi ketika siswa yang menantang sekolah lain bertarung itu melaporkan yang terjadi pada "harimau" yang bernama Bouya Harumichi, ia sama sekali tak direspon, malah Bouya yang kuat itu memakinya, karena ia anggap menantang sekolah lain berperang itu adalah tindakan kejahatan. dengan segala cara siswa itu membujuk bouya untuk membantunya menyelesaikan perang antar sekolah yang tak lama lagi terjadi, namun Bouya dengan dingin menanggapi perkataan temannya itu dengan berkata "jika kau mau berperang, silakan berperang, dan jangan pernah libatkan aku".
Setelah kejadian itu Bouya ta pernah masuk seolah lagi dan di sekolah itu tiap harinya ada saja siswa yang di hajar oleh sekolah yang di ajak berperang itu, hingga suatu hari ketikka Zetton sedang berada di atap "tempat favorit anak crow berkumpul" ia mendengar rengekan teman-temannya mengenai peperangan antar sekolah yang semakin memburuk dan rasa sesal terhadap Bouya yang tak kunjung membantunya.. Zetton dengan geram berbicara pada mereka. (silakan lihat di gambar berikut)

Kamis, 01 Agustus 2013

Karakter Worst

Sakota adalah salah satu karakter unik yang ditampilkan dalam komik "worst" karangan Hiroshi Takahasi.
Tak banyak peran dari Sakota, namun setiap kemunculan tokoh yang satu ini selalu menimbulkan gelagat tawa dalam alur cerita Hana cs.
~Sakota yang terlebih dahulu mendeklarasikan dirinya menjadi anggota terkuat di keluarga "Umehoshi Family" nyatanya kalah telak oleh Hana dalam permainan adu kekuatan. namun uniknya walaupun ia kalah telak ia tak pernah menaruh dendam malah ia menerima Hana yang telah mengalahkannya itu dan ia bertekad untuk menjadikan Hana sebagai pemimpin pula di sekolah para gagak "Suzuran".
-to be continued... ^-^

Senin, 01 Juli 2013

Ospek Kenal

Hari yang cukup cerah untuk mengawali ospek yang dilaksanakan oleh Universitas Pasundan Bandung (Unpas), saat itu Aku dan Agung mulai beradaptasi dengan lingkungan yang baru Aku kenal, Aku dan Agung merupakan mahasiswa baru yang saat itu sedang melegalkan dirinya untuk di akui sebagai salah satu mahasiswa di universitas itu. Kira-kira pukul 07.00 wib. Aku dan Agung beserta mahasiswa baru dibariskan di halaman parkir depan gedung FKIP Unpas, mataharipun menyapa semua mahasiswa baru yang sedang berbaris rapih, tapi ternyata tatibpun tidak mau kalah terhadap sambutan matahari, tatibpun mulai menyapa pada Aku yang sedang berbaris, tentunya sangat berbeda jika matahari menyapa mahasiswa baru dengan sentuhan hangatnya, sedangkan para tatib menyapa Aku dengan makian dan sikap yang memanaskan hati.

“heii,,, kamu baris yang rapih!” tegur tatib padaku
“ukh, padahal perasaan aku sudah baris dengan rapih, tapi masi saja kena omel, dasar!” gerutuku.

Selang beberapa jam, Akupun mulai dibagi kelompok dan tanpa terduga Aku dan Agung  terbentuk dalam kelompok yang sama, tanpa pikir panjang karena takut kena marah lagi Aku dan Agungpun mulai bersatu dengan anggota kelompok lainnya, dibawah tebing yang cukup kokoh dan di samping pepohonan yang menyaring datangnya sinar matahari langsung menyapa kulit kami, ada seseorang yang menghampiri dan menyodorkan tangan kanannya pada Agung dan Aku, saat itu pula Aku mulai berkenalan.


PENANTIAN TERAKHIR



Disini aku berdiri, bukan karna aku ingin melangkah ataupun berlari melainkan hanya sekedar mengenang semua yang telah ku lewati bersamamu, masih sama seperti dulu, air yang tenang, angin yang berhembus menyegarkan pikiran, burung-burung yang selalu menyapa setiap orang yang langlang-lingling  menyelusuri tempat ini, sungguh suasana ini membuat aku semakin larut dalam khayal.
“Langitnya indah yah By”
“Hmmm…ya, tapi sebenarnya ada yang lebih indah dibandingkan dengan langit itu” jawab Biyan padaku sambil tesenyum.
“Wahh,,, apa itu By?”
“Sesuatu yang sangat indah bagiku yaitu bisa mengenal dan bersahabat denganmu Dit” lagi-lagi dia menjawab sambil tersenyum padaku, aku sungguh sangat bahagia dia berkata begitu, walaupun dalam hatiku menyimpan dan mengiginkan lebih dari itu.
“Dasar kau By!”
“Ye, kenapa memangnya Dit, kamu kebratan?” Tanya Biyan padaku dengan raut wajah yang sangat berbeda dari yang tadi.
“Tidak By, hanya saja itu seperti berlebihan, aku hanya manusia biasa mana mungkin aku bisa menyaingi keindahan langit”
“Liat mataku Dit, apakah aku kelihatan bergurau?” Biyan tiba-tiba menatapku dengan tatapan mata yang tidak seperti biasanya, akupun tak kuat tuk terus melihat matanya, dan akupun memalingkan penglihatanku darinya


Hidupku Dimulai Ketika Fajar



Embun pagi masih lekat dalam tubuh setiap orang dan setiap benda yang hadir dalam perjalanan tanpa atap, tak terasa badanku basah kuyup setelah aku memaksa menerobos dinginnya udara subuh, aroma-aroma masakan yang mulai menjajalkan kelebihannya mulai berlomba menarik perhatian orang yang kedinginan, ingin rasanya aku sejenak menuruti kata perutku yang mulai tergoda dengan aroma nikmat ketan bakar khas Lembang, tapi tugas yang memaksaku tuk tak bisa mampir walau hanya untuk menjajal perut ini dengan sepotong ketan bakar, akupun terus mengayuh sepeda layaknya pembalap sea games yang hendak mencapai finish.
“Hoy, mad lu lagi ngapain pagi-pagi dah ngayuh sepeda keliling komplek gue, hah…lu jadi pengantar Koran rupanya, aduh kasian sekali kau Mad” sapa ejek teman sekelasku ketika aku secara kebetulan mengantarkan koran tepat kerumahnya, aku hanya menanggapi ejekan Rafi dengan dingin, pikirku aku tada waktu untuk melayani ejekannya itu.

Minggu, 30 Juni 2013

berhenti menulis dulu

lewat jam 14.00 aku masi saja mengurung diri di kamar tak ada aktivitas jelas yang kulakukan hanya menatap layar laptop sembari 'memijit-mijit kyboard, kulihat di layar kanan laptopku ada secuir kertas yang masi menempel, ya itu tulisanku dulu. dalam kertas itu tertulis "ayo menulis apa hari ini?" dengan tersenyum aku jawab pada kertas itu, hari ini aku takan menulis apa-apa, rehat sejenak rasanya masih cape. malum kemarin aku dan kawan-kawanku telah berpergian menengok adik-adik seperjuanganku yang hendak Kuliah Praktik Bermasyarakat (KPB). 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...